Naskah Teater "Arya Penangsang Gugur"



ARYO PENANGSANG GUGUR
Script By : mbah Jogo

Tokoh Cerita :
1. Aryo Penangsang
2. Patih Matahun
3. Danang Sutawijaya
4. Abdi
5. Pekatik

Bagian 1
Terlihat seseorang sedang bersemedi di ruangan khusus tanpa penerangan
 (lampu fokus merah)
Lagu
Tapa satria
Heningkan cipta
Alirkan rasa merasuk sukma
Pati geni adalah sarana
Ambabar kadigdayan

Bagian 2
Patih Matahun dihadap abdinya.

Patih Matahun :
Sudah 40 hari...iya sudah genap 40 hari nak mas adipati bersemedi. Hari ini waktunya beliau untuk berbuka dari puasa pati geni yang dilakoninya.

Abdi :
Gusti patih, apa perlu kita beritahu kanjeng adipati bahwa hari ini telah rampung puasanya?

Patih Matahun :
sebaiknya jangan dulu, nak mas Aryo Penangsang juga pasti sudah mengetahuinya. Setelah dirasa sudah mencukupi syarat seperti yang diwejangkan kanjeng sunan kudus, nak mas adipati pasti akan keluar dari sanggar pamujannya.

Abdi :
sendiko gusti patih, beliau mungkin masih memastikan bahwa semua ilmu kanuragan yang dimilikinya telah pulih.
Patih Matahun :
iya, sebaiknya kita menunggu saja. Rajah kalacakra dari kanjeng sunan kudus sungguh sangat ampuh. Orang sakti mandraguna seperti nak mas penangsang pun bisa gugur ilmunya terkena wirid sakti kanjeng sunan.

Abdi :
bukankah seharusnya wirid itu ditujukan pada Mas karebet?

Patih matahun :
hm...benar. Awalnya dampar yang sudah di asma’i oleh kanjeng sunan kudus itu ditujukan untuk melenyapkan kanuragan mas karebet. Tetapi karena kecerdikan dari ki ageng pamanahan yang ikut hadir pada saat itu. Nak mas haryo penangsang terpaksa menduduki dampar  untuk menutupi kecurigaan orang-orang selo itu.

Abdi :
hm...kanjeng adipati sungguh luar biasa keberaniannya.semoga dengan rampungnya puasa pati geni semua kanuragannya pulih seperti sedia kala. kita semua rakyat jipang panolan sangat membutuhkan sosok pemimpin seperti kanjeng aryo penangsang.

Patih matahun :
Benar. Nak mas aryo penangsang masih mempunyai cita-cita luhur yang belum terlaksana.

Abdi :
Apakah ada hubungannya dengan Demak bintara paman patih?

Patih matahun :
iya benar, Demak bintara adalah hak dari nak mas adipati. Beliau adalah anak dari pangeran sekar sedo lepen yang dibunuh karena dianggap memberontak pada masa pemerintahan sultan trenggono. Nak mas aryo penangsang adalah pewaris yang sah. Karena didalam darahnya mengalir darah raden patah, kakeknya. Namun sepertinya beliau ingin mendirikan kasultanan sendiri. Iya, kasultanan Jipang panolan.

Selang beberapa saat masuklah haryo penangsang
Aryo Penangsang :
Apa yang sedang kalian bicarakan?

Patih matahun dan abdinya menghaturkan sembah sungkem kepada aryo penangsang
Patih matahun :
alhamdulillah nak mas adipati kiranya sudah merampungkan semedi dan puasa. Juru masak kedhaton sudah menyiapkan semua hidangan untuk nak mas adipati.

Aryo penangsang :
terimakasih paman patih.(meminum minuman yang telah disediakan ) Kini ilmu kanuraganku sudah pulih paman. Akan kulantakkan demak bintara. Dan mas karebet...Aku akan membuat perhitungan dengannya.

Patih matahun :
sabar nak mas adipati. Semua harus kita rencanakan dengan matang.
Saat ini marilah kita adakan selamatan. Sebagai tanda nak mas adipati yang berhasil melewati puasa pati geni selama 40 hari. Sudah selayaknya kabar baik seperti ini diketahui oleh rakyat jipang panolan. Agar mereka bertambah semangat dalam membela tanah leluhurnya.

Aryo penangsang :
benar paman, panggil semua abdi dalem dan bangsawan jipang panolan kemari.
Para abdi dalem dan bangsawan jipang panolan berdatangan dan mereka memulai menyantap hidangan yang telah tersedia.
Tiba-tiba datang pekatik dengan tergopoh-gopoh.

Arya Penangsang :
Ada apa ? Ceritakan apa yang terjadi ? Mengapa kamu terluka parah

Pekatik :
ampun kanjeng adipati, hamba membawa lontar dari seseorang yang memotong telinga hamba. (dengan suara yang berat menahan sakit)

Arya Penangsang :
Kamu kenal orang itu?

Pekatik :
ampun kanjeng adipati. dari pakaian yang dikenakannya, sepertinya seorang perwira kadipaten pajang. Dia juga berpesan bahwa lontar ini dari junjungannya, adipati hadi wijaya.
Sang perumput mengulurkan gulungan rontal yang juga berlepotan darah. Arya Penangsang menyuruh Patih Matahun menerimanya dan segera membaca isinya.
Sembari berdiri, patih membuka gulungan itu dan membaca surat tersebut :

“He, Penangsang! Yen sira nyata Lanang Sejati, payo tandhing lawan ingsun. Dak anti sapinggiring bengawan tapel wates. Yen ora wani nekani, nyata sira wandu kang memba rupa! Budhala tanpa rowang! Ingsun wong Sela wus tan bisa suwe nahan sedyaning tyas kapengin nigas janggamu!”

(Hai, Penangsang! Jika nyata Lelaki Sejati, mari bertanding denganku! Aku tunggu dipinggir sungai tapal batas. Jika tidak berani datang, jelaslah kamu seorang banci yang menyamar sebagai lelaki ! Berangkatlah tanpa prajurid! Aku orang Sela sudah gatal ingin memenggal kepalamu!)

Arya Penangsang :
Kurang ajar !!! ( Tangannya mengebrak meja disebelahnya yang dipenuhi dengan nasi tumpeng! Meja terguling dan nasi diatasnya berburai seketika, berserakan )

Arya Penangsang :
Prajurit, siapkan Kyai Gagak Rimang sekarang juga !
Prajurit yang diperintah menyembah dan tergopoh-gopoh jalan mundur.

Patih Matahun :
Nakmas Penangsang, mohon sabarkan hati sejenak. Biarkan saya memberikan perintah kepada Senopati Jipang agar menyiagakan seluruh prajurit!
Arya Penangsang tak bergeming! Sembari mengambil keris dan dipujanya (disentuhkan di dahinya)

Arya penangsang :
kali ini, keris kyai setan kober akan kucuci dengan darah mas karebet yang sombong itu. (dia segera keluar dari ruangan)

Patih Matahun :
Nakmas Penangsang!

Bagian 3
Di pinggir bengawan
Aryo Penangsang :
Keparat!! Kalau nyata laki-laki, keluarlah! Jangan bersembunyi!!
(Desingan beratus-ratus anak panah meluncur deras mengarah kearahnya. Aryo penangsang kebal senjata.)

Arya Penangsang :
(sambil tersenyum sinis), hm...licik, beraninya cuma bersembunyi.
(Kembali meluncur berpuluh-puluh anak panah)

Aryo Penangsang :
Hahaha...senjata kalian tak mempan terhadapku. Kesaktianku kini telah pulih. Hai orang pajang...keluar kalian semua melawanku.aku tak gentar sedikitpun.jangan hanya bersembunyi seperti anak kecil.

Bagian 4
Patih Matahun dan abdinya mengawal dari belakang
Patih Matahun :
kamu lihat.kyai gagak rimang itu, kuda itu menjadi tak terkendali ketika melihat kuda betina yang dikendarai lawan kanjeng adipati.

Abdi :
benar gusti patih, kyai gagak rimang adalah kuda tempur yang sakti. Tidak pernah birahi dengan kuda betina.

Patih Matahun :
Itulah kecerdikan dari ki ageng pamanahan, dia pasti yang mengatur siasat ini dan menjebak nak mas penangsang agar sendirian menyebrang bengawan.

Abdi :
Kita harus bagaimana gusti patih ?

Patih matahun :
Siapkan pasukan jipang panolan. Kita harus menyerang segera pasukan pajang.

Abdi :
Sendiko dawuh gusti patih.


Bagian 5
Sutawijaya :
Penangsang! Aku lawan tandingmu! Ini aku danang sutawijaya akan membunuhmu.

Aryo penangsang :
hahaha...ternyata cuma anak kecil, hai sutawijaya.katakan pada mas karebet. Suruh dia maju sendiri. Kembalilah kamu ke pajang dan nyawamu akan kuampuni.

Sutawijaya :
Jumawa, biarlah tombak kyai plered ini yang akan merobek perutmu...hiaaaat.....(menyerang aryo penangsang).
Terjadi pertarungan sengit, sampai akhirnya tombak kyai plered yang terkenal sakti berhasil menembus lambung dari aryo penangsang.
Usus aryo penangsang terburai dan dikalungkan di kerisnya. Ketika sutawijaya berhasil diringkus. Aryo penangsang menghunus keris. Ketika keris itu dicabut. Usus aryo penangsang terputus. Maka gugur lah aryo penangsang di medan laga. Gugurlah sang ksatria jipang panolan yang sakti mandraguna.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar