Kentrung
Sebuah Persembahan Film Pendek dengan
tema Kearifan Lokal Lamongan
Sutradara : mbah Jogo
Aktor : 1. M. Maulana Akbar R.
2. M. Hafidz Al Farobby
3. A. Syamsurrizal Fikri
4. Efendi Zarkasih
Crew
Cameraman : A. Faqih Tsani
Script Writing : mbah Jogo
Film Editor : mbah Jogo
Music Composer : mbah Jogo
Produser : Studio Teater Kayon SMA Unggulan BPPT Al Fattah
Sinopsis
:
Berlatar sebuah pondok pesantren di
kota Lamongan, film pendek ini menceritakan perjuangan seorang santri pribumi
lamongan yang berusaha mengenalkan kesenian tradisional khas lamongan yang hampir
musnah yaitu kentrung.
Santri itu bernama aka, saat ini
masih duduk di kelas dua belas di salah satu SMA swasta di lamongan. Dia
berasal dari daerah solokuro, salah satu kecamatan di kabupaten lamongan yang
masih menjaga kesenian kentrung. Selain sebagai kesenian dan hiburan
masyarakat, kentrung juga berfungsi sebagai media dakwah Islam. Cerita-cerita
yang dikembangkan oleh dalang kentrung banyak bersumber dari kisah para wali
menyebarkan Agama Islam di tanah jawa. Namun yang sering kali di daerah
lamongan ini kentrung banyak menceritakan tentang sejarah kanjeng sunan drajat.
Sehingga nama kentrung khas lamongan ini identik sebagai kentrung sunan drajad.
Pada suatu kesempatan, di acara
pekan seni dan sastra di sekolahnya. Aka berniat untuk ikut berpartisipasi
dengan menampilkan kesenian kentrung. Namun sayang, penampilannya tidak
mendapat respon yang baik dari hampir semua siswa yang hadir di aula sekolahan.
Ketika kentrung ditampilkan banyak dari mereka yang masih merasa asing. Merasa
kesenian kentrung itu kesenian yang ketinggalan zaman sehingga banyak dari para
hadirin yang meninggalkan ruangan pertunjukkan disaat kentrung digelar. Hal itu
sangat berbeda sekali dengan tanggapan siswa siswi ketika grup band dari
sekolahan mereka tampil. Riuh gemuruh menyambut penuh semangat saat lagu-lagu
band dilantunkan.
Pada suatu hari, di awal-awal tahun
pelajaran baru. Banyak koordinator dari ekstrakurikuler sekolah yang sudah
mulai promosi untuk mencari member baru dari murid-murid baru. Diantaranya
adalah ekstra musik band dan tidak ketinggalan ekstra kesenian kentrung. Ekstra
musik band yang meskipun biaya untuk menjadi anggota baru sangat mahal, namun
peminatnya sangat luar biasa. Baik dari siswa maupun siswi sekolah itu banyak
yang mendaftar. Hal ini berbanding terbalik dengan ekstra kentrung. Meskipun
biaya gabung dan masuknya anggota baru gratis. Namun dari sekian banyak siswa
siswi hanya satu yang berminat.
Siswa yang berminat itu bernama
efendi. Siswa yang masih kelas sebelas itu menemui aka selaku koordinator
ekstra kentrung. Namun seolah sudah hilang semua harapan untuk mengembangkan
kesenian kentrung di sekolah. Aka malah berniat untuk tidak menutup ekstra
kentrung dan mengatakan kepada efendi bahwa kentrung lamongan sudah mati, tidak
ada gunanya berfikir untuk melestarikan kesenian khas lamongan warisan leluhur
itu.
Pada suatu sore,untuk merefresh
fikiranya yang kalut aka berniat untuk pergi ke sebuah telaga yang terletak
tidak jauh dari pondoknya. Dengan
berjalan kaki aka menuju telaga desa yang teduh karena rindangnya pohon
trembesi yang banyak tumbuh di pinggir-pinggir jalan dan juga telaga. Sembari
menyandarkan tubuhnya di pohon trembesi ditepi telaga aka mencoba menjernihkan
pemikirannya yang masih judek karena maslah kentrung yang bisa dikatakan sedang
menuju kepunahan. Karena hawa yang sejuk di bawah pohon, aka pun tertidur. Ketika
masih berada dalam posisinya tertidur itu aka ditemui oleh seorang tua berjubah
putih yang mengaku buyutnya. Seorang tua itu seolah tahu apa-apa yang sedang
difikirkan dan dikhawatirkan aka. Dalam mimpinya itu aka mendapat wasiat dari
agar terus melestarikan kesenian kentrung. Karena buyut aka dulu adalah seorang
penabuh kentrung juga ketika beliau masih hidup.
Setelah mendapatkan wasiat itu aka
terbangun dari tidurnya. Dia masih binggung dengan yang barusan ia alami.
Ditemui buyutnya dalam mimpinya. Mimpinya itu seolah-olah menjadi jawaban dari
keresahan-keresahannya selama ini mengenai kentrung. Wasiat dari buyutnya itu
juga yang memicu semangatnya kembali untuk terus melestarikan kesenian
tradisional khas lamongan itu. Dengan wajah yang sumringah aka kembali ke
pondok. Belum sampai pintu gerbang pondok, aka mendengar ada rebana dan
tanjidor yang dibunyikan. Sesampainya di mushola aka melihat dua santri sedang
memainkan alat musik khas kentrung tersebut. Dilihatnya dengan seksama ternyata
efendi dan satu temannya lagi sedang berlatih kentrung. Mereka berdua akhirnya
menegaskan sebuah pernyataan kepada aka bahwa kentrung lamongan belum mati.
Kentrung lamongan masih ada harapan untuk dikembangkan. Agar warisan budaya
leluhur yang penuh dengan nilai-nilai kearifan lokal tidak hilang di
tengah-tengah masyarakat. Film pendek ini juga mengandung maksud agar anak-anak
muda tidak seharusnya malu dan merasa ketinggalan zaman ketika mempelajari
sebuah kesenian tradisional. Kita kaum pemuda adalah pewaris nilai-nilai luhur
budaya, nilai-nilai adi luhung yang akan selalu kita butuhkan dalam menjalani
kehidupan ini.
Sekian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar