Satrio Piningit (I)

Ketika bicara pemimpin, fikiran orang kebanyakan akan selalu tertuju pada seseorang, lembaga atau institusi dimana ada subjek menjadi center yang bertugas memimpin objek yang harus dan butuh dipimpin. Para pemimpin bekerja pada ranah mengkonsep, mengarahkan, menjalankan, mengorganisir serta berkewajiban mengevaluasi segala hal yang berkaitan dengan bidang tanggung jawabnya. Pemaknaan arti pemimpin tergantung dari sudut pandang mana ia ambil, di ruang lingkup mana ia tinggal. Sehingga perbedaan argumentasi adalah menjadi keniscayaan.


Terlepas dari proses yang melandasi terbentuknya seorang pemimpin, juga diantara butuh dan tidaknya, setuju dan menolaknya seorang yang dalam sistem harus menjadi bawahannya pemimpin adalah sebuah kepastian yang secara sunnatullah ada di tengah-tengah kehidupan manusia. Ini kalau kita mengkaji teori terbentuknya pemimpin antara yang merupakan rekadaya manusia dan yang secara alami tanpa syarat apapun yang mengiringinya.


Ketika sebuah keadaan sosio culture sebuah komunitas masyarakat berada pada titik resesi, kronis atau akut yang meliputi semua aspek, dari titik itu pula sebenarnya terjadi kulminasi partikel-partikel cahaya yang siap menyemburat menjadi damaring kahanan. Lingkaran cahaya itu boleh kita sebut ratu adil satrio pingit kalau dalam terminologi budaya Jawa, atau sang imam Mahdi dalam islam.


Sebagian orang pintar (sebutan orang yang linuwih) kejawen meramalkan bahwa untuk sampai pada hal tersebut harus melalui sebuah proses yang dalam pewayangan disebut dengan perang brubuh, sebuah keadaan chaos yang akan benar-benar menghasilkan sebuah perubahan besar dalam dimensi apapun. Bisa seorang ratu Angkara tergantikan yang lebih berbudi bawa leksana, seorang ksatria yang telah purna lelana brata didaulat menjadi ratu, seorang ratu yang lengser keprabon menjadi brahmana atau menjalani kehidupan yang menjauhi urusan duniawi dan hanya mempersembahkan jiwa raganya kepada ingkang murbeing dumadi. Atau banyak lagi lakon-lakon yang menjadi ending dari sebuah alur hidup.

Karmapala

Mendung katon ngglayut
Sesawangane san saya dhedet
Kadyo mralampita
Ati-ati kang den cidera
Dening para penguasa
Ingkang sampon kulina
Nulayaning prasetyo
umbar janji umbar supata
Dateng kawula alit

Yen aku ora dadi ngapa
Senajan patrapmu kaya mengkana
Nanging iling
Sesok yen rejaning jaman
Bakal tak tagih sumpahmu
Aja sumingkir lan aja tedheng
Nganggo panggaling-aling
Tumekaning karma
Tumiba saklebating teja

Lamongan, 16 November '17

Closed

Bejo pagi setengah siang itu lagi ngomel sendiri. Pasalnya pak RT kampung senin memberlakukan sebuah aturan yang dinilainya tidak berpihak pada kawula alit.
"Masak semua warga kampung senin wajib memasang closed di kamar mandi masing-masing" gerutu bejo sambil ngarit lamtoro di pekarangan rumah suwung wak kaji slamet buat pakan kambing piaraannya."
"Dasar RT ndak tahu kahanan"
"Hush..." Tiba-tiba waras datang dengan sepeda onthel kunonya menyahuti dari jalan.
"Awakmu ras"
"Ndak kurang banter ta kang ngomelnya, sekalian pakai langgar kampung biar menjadi viral.he..."
"Onok wae, saya ndak se mainstream itu ras. Yang menjadi viral kebanyakan cuma sensasinya, isinya kotong mlompong"
"Lha gimana, pagi-pagi tak dengarkan dari radius 10 meter kok kedengaran klosed-klosed, saknjane ada apa ta kang bejo?".
"Stop, tak rampungkan dulu tugasku ini, lima menit lagi ketemuan di warung mbok pah"
"Halah, gayane kayak wong gede wae. Oke tak tunggu di warung sumeleh ya kang".
Setelah lima menit.
"Sudah saya pesankan kang, kopi susu kan. Monggo ini rondho royalnya juga masih hot"
"Suwun ras"
"Gimana tadi masalah klosednya kang?"
"Singkat cerita ras, intine pak RT kampungku, kampung senin mewajibkan warganya punya klosed di jedingnya masing-masing, apa ndak hegemoni itu?".
"Lho, hegemoni gimana to kang, lha itu kan aturan yang baik, kalau semua warga punya klosed tujuannya adalah mendukung upaya pemerintah dalam bidang kesehatan penduduk. Penyakit-penyakit ndak gampang menyerang karena notabene penanggulangan penyakit yang bersarang di kotoran bisa terminimalisir. Sekarang sudah ndak jamannya model jamban kang, selain menjadikan lingkungan sekitar kurang baik karena masalah baunya yang aduhai.juga karena kurang tertutup sehingga menyebabkan banyak penyakit menyerang warga. Trus masalahnya dimana kang?"
Bejo tersenyum sinis sambil menikmati kue rondho royalnya yang masih hangat.
"Kopasusnya kang" lek min membawakan secangkir kopi susu pesanan Bejo.
"Suwun lek min"
"Piye kang argumentasi ku tadi? Coba jawab!".
"Waras sahabat kentalku, tak beritahu ya, kamu itu ndak ngerti duduk persoalannya".
"Maksudnya kang?".
"Aturan itu tak akui pancen jempol. I like that, selain untuk alasan kesehatan juga untuk mengangkat nama kampung senin di tingkat dusun menjadi kampung yang ideal.tapi ..."
"Tapi apa kang?".
"Kamu ngerti ndak berapa persen warga kampung yang belum mempunyai klosed. Hampir lebih dari 50% ras. Na ngerti ndak kamu alasannya?".
Waras menggelengkan kepalanya.
"Para warga kampung senin, jangankan klosed, jamban saja ndak punya, mereka lebih suka berak di kali-kali atau bengawan, selain lebih bebas tak terikat juga karena jeding alias kamar mandi saja para warga belum punya.kita tahu sendiri tingkat ekonomi mereka berada di level sepertiga dari tengah ndlosor ke bawah. Buat makan sehari-hari saja kurang-kurang. sekarang diwajibkan beli klosed, mau ditaruh di mana? Ruang tamu ta? Mikirrrr !!!".

Ngaji Kahanan (I)

Pagi-pagi benar Punjul sudah nampak batang hidungnya di warung favoritnya. Letaknya yang adem ayem karena berada dibawah barongan (sebutan untuk rumpunan pohon bambu), tanpa ada meja kursi cuma gelaran kloso (tikar) pandan. Warung itu memang sepi pelanggan, tidak ada koneksi WiFi, tidak ada ringen-ringen suara orkes melayu, pun sang pemilik warung  itu adalah mbok pah seorang perempuan paruh baya suami dari lek min yang kesehariannya membantu istrinya di warung kopi. Namun justru karena kahanan warung yang seperti itu menjadi kegemaran punjul dan kawan-kawan lingkar ngopi sumeleh. Bukan berarti mereka menciptakan pencitraan anti mainstream, tetapi karena bagi kawanan lingkar ngopi sumeleh, kerotoboso dari kata ngopi bisa berarti "ngolah pikir", "ngobrol perkara iman" atau bisa juga "ngobati pikir". Jadi yang dibutuhkan adalah semacam tempat training kontemplasi berbasis sruputan kopi.
Seiring dengan intensitas pertemuan yang secara rutin namun tidak saklek oleh jadwal, terciptalah sebuah wadah bertukar ide, informasi dan ilmu yang dibutuhkan. Ibarat sebuah pasar terjadi dol tinuku, kulak an dan pentransferan segala hal secara natural dan legowo.
"Pripun kabare lek?"
Punjul menyapa lek min yang baru saja muncul karena dari tadi sibuk di belakang membenahi talang yang bocor.
"Alhamdulillah ijek iso ngibadah njul"
"Wessss...lek min pancen jos.Jawabane jerooo"
"Njul...njul...nek mung jawab koyo ngono wae gak perlu dadi jos disek. Awak dewe obah sak obah rak yo podo karo ngibadah  toh."
"Tergantung niatnya ya lek"
"Lho...awakmu yo nyandak ngono"
"He...elek-elek ngene yo tau mondok cah"
"Perkoro pernah mondok utowo ora iku ora dadi ngopo. Sing penting gelem tetep belajar kahanane urip. Setidak e nek tau nyantri iku duwe dasare. Nek iso ngamalno yo malah apik"
"Lha jenengan nate mondok ta lek?"
"Hm...ngrasakno mondok. Iso ngerti alif bengkong ae wes syukure gak karu-karuan. Dulurku kabeh sewelas gak ono sing iso sekolah. Jaman semono jan angele golek pangan njul. Mulo karo bapak lan biyung aku sak dulur-dulurku di ngajikno wae nang langgare kaji slamet. Menurut e bapak nek wes duwe dasaran agomo sing mantep tembe mburi gak bakal getun. Ngono njul wasiate bapak"
"Wah...kok dramatis seru lek critane. Bai ndeway ondeway baswe...ten pundi mbok pah yo. Aku arep pesen kopi ireng".
"Mbok pah durung muleh teko pasar, berangkat awet mari shubuh maeng. Tak gawekno wae".
"Oke lek. Matur nuwun".

Mencari Tirta Prawitasari

Sore selepas laut (istirahat) mreman, Bejo leyeh-leyeh dibawah pohon slobin. Karena cuaca sedari siang tadi berawan didukung semilir angin yang merayu dan mengajak pelupuk mata untuk terpejam, lek kun bablas.
Tidak dinyana sebelumnya sudah berdiri seorang tinggi besar,dedeg piadeg pidegso mrebawani, sorot mata tajam layaknya seekor elang yang melihat mangsa, kumis tebal dan jenggot simbar dodo. Seperti dalam pertunjukan wayang orang Sriwedari orang itu bergelung keling, gelangnya candrakirana dan jarit poleng bang bintulu aji. Dengan tatapan tajam mengarah ke bejo yang tampaknya gemetaran dan wajah pucat sampai-sampai tidak bisa ngelek idu.
Bejo mengambil nafas dalam, "si...sin...ten ndiko?"
Belum ada jawaban, orang itu tetap saja memelototi wajah bejo yang semakin abang biru saking takutnya.
Setelah sekian menit, barulah terdengar suara mendehem panjang.
"Hemmmm......"
Bejo sudah bisa tersenyum setelah mendengar suara orang tersebut.
"Ealah....panjenengan iki lak Raden Bronthoseno ngge?"
Orang itu mengangguk kaku.
"Panjenengan wonten kawigatosan menopo dumugi mriki Raden, kok njanur gunung ?"
"Hemmmm.......Iki tlatah ndi? Opo ijek bumi ngamarta?"
Memang dalam pewayangan Pandawa satu ini tidak pernah berbahasa Krama dengan siapapun meskipun menghadap ratu (raja).
"Sanes Raden, ini negara Indonesia"
"Indo..."
"Indonesia Raden"
"Hemmmm.....ngerti panggone tirto Prawitasari?"
"Tirto Prawitasari? Menawi mboten lepat sakmeniko lakon dewa Ruci ngge?"
"Iyooo...Iki lelakon ku, sendiko dawuh karo perintahe begawan guru durno"
Bejo tersenyum sendiri, tampaknya dia telah masuk di dunia pewayangan atau bahkan terbalik dimensi pewayangan yang katon Sanyoto atau tampak nyata dihadapannya.
Bejo memang penggemar wayang kulit. Tidak jarang begadang semalam suntuk hanya untuk mendengarkan lakon wayang di chanel RRI radio lawasnya. Jadi dia sangat hafal dengan lakon dewa ruci. Kini dia didatangi langsung sosok tokoh pewayangan yang digemarinya, sebuah even yang mungkin sekali dalam perjalanan hidup bejo.Lek kun masih terlihat senyum sendiri sembari merancang dalam benaknya pertemuan ini akan diceritakan ke teman-temannya di lingkar ngopi.
"Hemmmm......Kowe ngerti opo ora?"
Ternyata bejo tengah asik dengan lamunannya sendiri.
"Eh...atur pangapunten Raden, lakon panjenengan sakmeniko kawulo semerap pungkasaning cerito, bile panjenengan kerso kulo badhe mbabar alur utowo reroncening lampah lakon sakmeniko"
"Dadi awakmu ngerti pungkase critaku?"
"Engge den"
"Hemmmm......tak kandani, aku ora butuh ngerti crito lakonku Iki, apik opo elek aku ora mraelu. Kewajibanku mung nurut marang printahe guru. Senajan diperintah nyegur segoro bakal tak lakoni. Sebab aku yakin bakal dadi sarono mukti wibowoku, ibuku kunthi, dulur-dulurku Pendowo lan kabeh rakyat sak negoro ngamarta."
Lek kun godek-godek, seandainya saja karakter seperti itu diwarisi generasi saat ini. Andhap asor (tawadhu') kepada guru, tentu saja guru tidak hanya diartikan sebagai orang yang mengajar di sekolah atau tempat belajar saja, melainkan orang-orang yang mempunyai sumbangsih keilmuan dan kaweruh apapun terhadap pemikiran, perilaku dan ucapan kita. Bisa jadi datang dari wong tandur, bocah angon, pemulung, gelandangan dan Kawulo alit lainnya karena dimensi istilah guru dan murid sangatlah luas. Tirto Prawitasari yang sedang dicari Raden Bronthoseno bukanlah sebuah benda yang konkrit. Karena arti dari Prawitasari adalah kehidupan itu sendiri. Mencari air kehidupan sama halnya dengan pencarian jati diri, menapaki riak-riak gelombang yang berada pada alur hidup. Sehingga pada akhir cerita lakon dewa Ruci, sang Werkudara berhasil bertemu dengan dirinya yang micro cosmos dalam bentuk wadag sang dewa Ruci. Digambarkan dalam cerita pewayangan dewa Ruci berwujud fisik bimasena namun seukuran ujung jari. Sang Werkudara dalam kebingungan yang teramat bingung mendapat wangsit untuk masuk kedalam tubuh micro cosmos tersebut melalui telinganya. Sebuah perlambang kemanunggalan yang tidak bisa didefinisikan dengan ilmu logika apapun. Entah manunggalnya kekuasaan dengan objek yang menjadi kuasanya,entah manunggalnya pemimpin dengan rakyatnya, rakyat dengan kedaulatannya atau yang lainnya. Semua tergantung darimana esensi penafsiran diambil. Tirto Prawitasari hakikatnya bukanlah hasil melainkan satu kesatuan niat,keyakinan,usaha serta akumulasi dari pengharapan yang dihimpun dari do'a yang tulus dan ikhlas tanpa ada rasa keraguan sedikitpun tentang hasil akhir. Baik dan buruk, happy atau sad ending, semua sudah kering tergariskan di Lauful Mahfudz.
Bayang benda sudah dua kali tingginya, lek kun kini sibuk mencari hp kameranya, kesempatan istimewa ini harus diabadikan, begitulah fikirnya. Saking sibuknya mencari hp nya sampai tidak sadar bahwa orang yang berada dihadapannya telah lenyap. Bejo menangis tertahan tak bersuara karena menyesal.
"Radeeeeen....Radeeeen....hiiiiiiiiiiiks....."
"Tangi jo....tangiiiii....."
"Alhamdulillah.....Raden kesini lagi....saya kira Raden sudah pergi tadi.....kita Selfi dulu ya...."
"Wong edan, wong nglindur...."
Bejo riyip-riyip membuka matanya.
"Astaghfirullah....na lapo aku ngrakut kowe Iki"
Punjul yang memang berbadan tegap itu tertawa ngakak.
"Dasar tukang nglindur".

Mikul Duwur Mendem Jero (I)

Seperti tak pernah bosan, tiap kali ada kesempatan ngopi dengan teman-teman seangan dan seperjuangan selalu saja diangkatlah tajuk permasalahan yang menjadi daya tarik tersendiri untuk diurai. Berceritakan sebuah keadaan yang sudah collapse dari timeline sejarah dusun. Meski menarik namun tersimpan sebuah kenyataan pahit dan memprihatinkan bagi sekumpulan orang yang telah terpisah jauh dari rantai sejarah itu.
"Yang bisa di upayakan adalah mencoba kembali menelisik cerita orang tua bahwa dulu memang ada sebuah pondok pesantren yang dibangun diatas bumi desa ini".Terang bejo salah seorang yang dianggap paling senior diantara lingkar jama'ah ngopi tersebut. 
Memang menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi para penggiat jandon tersebut ketika sudah membicarakan masa lalu desanya yang dulunya kondang kaloka diantara desa-desa sekitarnya sebagai desa punjere wong pinter.
"Pancen harusnya kayak gitu, na masalahnya yang masih bertalian kuat dengan pelaku sejarah seolah tidak ada tekad untuk ya...paling tidak mendem jero mikul duwur".Waras menimpali. 
"Maksudmu anak turunnya gitu?". Sergah punjul. 
"sopo maneh ? " Jawab waras . 
" Kalau dipikir, memang bener. Kita ini secara nasab ya ndak nyambung dengan keluarga ndalem pak Kyai. Secara strata sosial ya ndak mengemban tanggung jawab untuk membuka tabir keberadaan pondok tempo dulu itu. Awak dewe lak ibarate gombal mukiyo, diperlukno nek kanggo ngelap reged. kalau sudah selesai ya diuncalke latar.Tapi secara sosio culture, kita tetep duweni kewajiban nduduk ndudah tetilarane para sesepuh biyen". Bejo tambah semangat menjelaskan argumennya sembari nyruput kopi. 
Semua manggut-manggut mendengarkan keterangan dari bejo meskipun agak kurang mudeng juga karena banyak istilah asing bagi telinga mereka. Pada akhirnya mereka saling berolah pikir untuk sekedar menyambungkan benang merah dari tiap serpihan kaweruh yang mereka ketahui masing-masing dari berbagai sumber. 
Diyakini benar adannya bahwa konon pondok pesantren yang dibangun di tepian bengawan solo sebelah barat daya desa tersebut benar-benar ada dan bukan dongeng pengantar tidur semata. Meskipun tidak ada sama sekali yang tertinggal dari bekas bangunan fisiknya. Diceritakan selain sebagai tempat menimba ilmu, pondok tersebut juga dipakai sebagai kawah candradimuka pendadaran laskar rakyat yang bergerilya melawan kolonial belanda.
Selain dikenal sangat arif, Kyai Nur begitulah masyarakat memanggil beliau, juga sangat mumpuni olah kanuragan. Salah satu cerita yang paling fenomenal dan heroik adalah ketika saat penyerbuan ke markas belanda di desa sebelah yang sudah dikuasainya. Beliau merapalkan doa (semacam ajian sirep) yang diarahkan ke markas belanda. Sebuah karomah seorang Kyai yang pinunjul, ditampakkan menjadi sebuah kejadian diluar nalar manusia biasa. Waktu itu adalah musim kemarau namun tiba-tiba mendung berarak dan menurunkan butiran-butiran gerimis yang membuat seluruh pasukan belanda tertidur pulas seperti layaknya orang pingsan. Kontan saja para pengikut kyai Nur dengan mudah membunuh satu persatu hingga habis satu compi pasukan di markas belanda.
Cerita ini secara getok tular sudah sangat mengakar dikalangan orang-orang desa. Selain cerita tentang daya linuwih Sang kyai, Juga diceritakan bahwa beliau mempunyai tosan aji atau pusaka sebilah pedang yang konon sangat bertuah. Sebuah senjata yang menjadi piandel kyai dan pengikutnya para gerilyawan dalam menumpas penjajah. Namun hingga kini keberadaan pusaka tersebut masih sangat misterius.
Banyak para kolektor yang memburunya. Pernah sekali ketika sang Kyai masih gesang ditawarlah pedang itu dengan harga 300 rupiah (Jika di konversi di tahun 2017 senilai 300 juta). Namun bagi Kyai yang zhuhud ini, material tidaklah menjadi tujuan sehingga gagallah sang kolektor mendapatkan pedang tersebut. Orang-orang masih percaya bahwa pedang itu masih tersimpan di suatu tempat yang tersembunyi dimana tidak ada orang yang mengetahui. Benar dan tidaknya anggapan itu sepertinya masih menjadi sebuah teka-teki yang akan menarik minat orang-orang seperti bejo, waras, punjul dan kawan-kawan untuk terus menelusuri jejak pondok pesantren penggembleng laskar rakyat.
(bersambung)