Tembang Lingsir Wengi
Oleh : mbah Jogo
Akhir
tahun 2006 sontak di media sosial banyak digunjingkan masalah sebuah tembang
jawa. Ramainya diskusi bukan lantaran mereka ingin melestarikan tembang-tembang
jawa yang hampir punah saat ini, melainkan karena dihubungkan dengan daya
supranatural dari lirik-liriknya. Tembang yang disugestikan bahkan diyakini
bisa memanggil jin setan pahrayangan adalah tembang Lingsir Wengi. Bagi yang
pernah menonton film bergenre horor yang
disutradarai Rizal Mantovani sekilas pasti tahu ketika tembang itu dilantunkan kontan muncul sesosok hantu
perempuan yang disebutnya kuntilanak. Tembang Lingsir Wengi dijadikan Ost.
(Original Soundtrack) dari film yang pemeran utamanya artis cantik Julie Estelle.
Mereka
yang percaya dengan daya mistik tembang Lingsir Wengi beranggapan bahwa lirik-lirik di tembang itu
adalah mantera pemanggil arwah gentayangan seperti halnya yang diceritakan di
film Kuntilanak. banyak penggemar film horor yang notabene adalah kawula muda
dalam kesehariannya merasa takut ketika ada tembang itu dilantunkan. Seolah-olah
mereka telah terdoktrin oleh sebuah fragmen film. Menjadikan contoh dan
langsung mempercayai apa yang dilihatnya dalam film tanpa dicerna terlebih
dahulu. Bukankah ini sebuah indikasi yang kurang baik bagi pendidikan generasi
di negeri kita ini. Mudah terpengaruh oleh wacana yang belum terbukti
kebenarannya.
Lain
dari pada pembahasan doktrinisasi sebuah perfilman di indonesia, sebenarnya ada
hal yang lebih penting lagi yang harus diketahui oleh para generasi muda yaitu esensi
dari sebuah tembang yang menjadi fenomena saat ini. Sebuah pertanyaan kemudian
berkembang, dari manakah asal usul tembang Lingsir Wengi itu ? benarkah
mempunyai daya magis untuk mendatangkan makhluk halus dari dimensi lain ?
sebelum menjawab pertanyaan itu kita harus mengetahui dahulu apa benar yang
ramai diperbincangkan adalah benar-benar tembang Lingsir Wengi yang asli atau
hanya bualan oknum yang tidak bertanggung jawab mengarang cerita yang belum tentu
kebenarannya sehingga para generasi muda terkontaminasi pemikirannya. Mereka
cenderung berfikir konvensional asal percaya saja tanpa berfikir kritis dan
ilmiah. Efeknya tembang-tembang jawa yang merupakan bagian dari budaya jawa
yang harus dilestarikan semakin dijauhi. Apalagi hidup di zaman serba modern
ini. Jangankan punya niat untuk melestarikan, mendengar kata budaya Jawa saja
mereka sudah antipati dengan berbagai alasan. Ketinggalan jaman lah, identik
dengan mistik lah dan lain-lain. Kalau sudah begini dikhawatirkan budaya
adiluhung peninggalan para leluhur kita akan sirna dari bumi nusantara ini.
Ironis sekali memang, seperti unen-unen atau peribahasa jawa yang bunyinya “wong
jowo ilang jawane” semakin mendekati benar seratus persen.
Untuk
menguak sejatinya tembang lingsir wengi memang harus mengetahui sumber yang
jelas agar benar-benar dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Lingsir wengi
menurut bahasa berarti waktu lewat tengah malam. Fungsi dari diciptakannya
tembang ini adalah sebagai mantera pelindung kehidupan, menjaga siapa yang membaca
dan mepercayainya dari segala marabahaya, membuat hidup sejahtera. Sangat
bertolak belakang dengan apa yang dipercaya orang-orang kebanyakan. Hal ini
yang harus kita sebarkan pada khalayak umum agar tembang Lingsir Wengi ini
tidak lagi berimej negatif bahkan ditakuti. Tembang lingsir wengi merupakan salah
satu tembang yang ditulis oleh kanjeng Sunan Kali Jaga, salah satu wali songo
yang menyebarkan agama Islam melalui media kebudayaan jawa. Sebuah cara yang
arif dan bijaksana serta sangat efektif mengingat pada saat itu antara Abad
15-16 masehi di pulau jawa masih dalam peralihan dari agama syiwa budha dan
berbagai macam aliran kepercayaan kepada agama Islam. Mereka tertarik untuk
masuk agama islam dan meninggalkan agama nenek moyang mereka dengan sukarela.
Kembali
pada pembahasan tembang lingsir wengi. Tembang ini tersurat dalam kitab yang disebut Suluk
Kidung Kawedar yang menjadi khazanah sastra jawa pada zaman kerajaan Demak.
Kidung itu berisi dakwah mengenai agama Islam, dan lebih khusus lagi tentang
tasawuf. Kata suluk berarti jalan atau cara, upaya seorang hamba menempuh jalan
menuju sang khaliq. Kidung ini terdiri
dari 46 pupuh atau bait dan terdapat tiga bait yang lebih dikenal dengan
sebutan tembang Lingsir Wengi atau Nama lainnya adalah Kidung Sarira Ayu,
sesuai bunyi teks dlm bait ketiga atau Kidung Rumeksa ing Wengi seperti bunyi
teks di awal kidung. Tembang ini merupakan
Tembang Macapat. Jenis tembangnya Dhandanggula. Berikut adalah bunyi
tembang Lingsir Wengi atau Kidung Rumeksa ing Wengi beserta artinya.
Pupuh 1
:
Ana
kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu
luputa ing lara
Luputa
bilahi kabeh
Jim
setan datan purun
Paneluhan
tan ana wani
Miwah
penggawe ala
Guna
ning wong luput
Geni
temahan tirta
Maling
adoh tan wani ngarah ing mami
Tuju
duduk pan sirna
Terjemahan
:
Ada
tembang pujian menjaga dikala malam
Membuat
kita selamat dan jauh dari segala penyakit
Terbebas
dari segala marabahaya
Jin
setan tidak berani
Guna-guna
atau teluh tidak mempan
Juga perbuatan
buruk
Dari orang-orang
jahat
Api menjadi
dingin bagaikn air
Pencuri
menjauh tiada yg berani
Mengincar
saya
Segala
marabahaya sirna
Pupuh 2
:
Sakehing
lara pan samya bali
Sakeh
ama pan samya mirunda
Welas
asih pandulune
Sakehing
braja luput
Kadi
kapuk tiba neng wesi
Sakehing
wisa tawa
Sato galak
lulut
Kayu
aeng lemah sangar
Songing
landak guwaning wong lemah miring
Myang
pakiponing merak
Terjemahan
:
Segala
jenis penyakit akan kembali
Smua jenis
hama menyingkir
Matanya
memancarkan kasih sayang
Semua senjata
atau ajian tidak ada yang bisa mengenainya
Bagai
kapuk yang jatuh ke besi
Segenap
racun menjadi tawar
Binatang-binatang
buas menjadi jinak
Pepohonan
yang aneh dan tanah angker
Sarang
landak goa tempat tinggal tanah miring
Serta sarang
tempat burung merak mendekam
Pupuh 3
:
Pagupakaning
warak sakalir
Yen
winaca ing segara asat
Temahan
rahayu kabeh
Sarwo
sarira ayu
Ingideran
ing widodari
Rineksa
malaikat
Sakatahing
rosul
Pan
dadyo sarira tunggal
Ati
adam utekku baginda esis
Pangucapku
ya musa
Terjemahan
:
Di tempat
badak berkubang
Maupun
jika dibaca di lautan bisa membuat air laut surut
Membuat
kita smua selamat sejahtera
Diri
kita menjadi serba elok
Dikelilingi
para bidadari
Dijaga
oleh para malaikat
dan semua
rosul
pada
hakekatnya sudah meyatu dalam diri kita
di hati
kita ada nabi adam, di otak kita ada baginda sis
jika berucap
bagaikan ucapan nabi Musa
Demikian tiga pupuh (bait) dari
tembang Lingsir Wengi atau sering disebut juga dengan Kidung Rumeksa ing Wengi.
Kidung bisa diartikan sebagai doa. Ki yang berarti “iki” dan dung
yang diartikan sebagai “Dungo”. Kalau digabungkan bisa berarti ini adalah
sebuah do’a. Kidung ini bermanfaat bagi yang merapalkannya maupun yang
mendengarnya. Hampir semua orang pada zaman dahulu baik laki-laki maupun
perempuan hafal kidung ciptaan kanjeng Sunan Kali Jaga ini sebagai do’a
perlindungan dan penjagaan di malam hari dari segala marabahaya. Dengan
mendendangkan kidung ini seraya memohon dan berdo’a hanya kepada Allah SWT sang
pencipta.
joss joss joss.....
BalasHapussae pak.....