Perihal "Wong Wajib"

Sesuatu hal yang lumrah memang, jika dalam sebuah lingkar ngopi menyaratkan komposisi jangkep semua karakter hadir demi ke'gayeng'an dialektika. Jika ada satu saja karib seperngopian yang alpha, katon momplong, ada kelesuan tersendiri terlebih ketika beberapa rumusan dialektika butuh karakternya sebagai penyeimbang nuansa. 

Kata boleh lah merangkai maksud, tapi tidak sama sekali mampu me'wedar' sebuah makna. Bagaimanapun juga keseimbangan yang jomplang tak kan bisa dijelaskan bahkan oleh seorang ahli mantiq dan balagoh pun. Roso, ya, sebuah istilah frekwensi batiniyah pada intinya yang melambari maujud nya sebuah lingkar ngopi.

Cak Gareng, satu di antara kawulo alit member lingkar ngopi sumeleh yang bisa menengarai embusan kesenduan tersebut. Pasalnya, Cak Petruk yang meski biasanya selalu "ana sega ndisik i neda, tut wuri mbayar keri" keberadaannya bak ditelan rimba. Raib, kata Bang Haji Raden Oma Irama.

Kepekaan sang Panakawan mbarep mungkin tak selalu mengindikasikan ngelmu weruh sakdurunge winarah, tetapi yang pasti sebuah kelebihan non logic yang ia dapatkan berkat keistiqomahannya sesrawungan yang benarbenar dilambari dari roso rinoso sajroning ati. Tak ada panggilan setulus ajakan ngopi sumeleh, begitulah asas dasarnya.

Cak Petruk bukan siapasiapa dan pun tak jadi apaapa. Ia hanya suket garing yang kerap diinjak dan disepelekan oleh kaum elit yang adigang, adigung, adiguna yang memuja kekuasaan, kekayaan dan kepintaran. Namun bagi jamaah ngopi sumeleh, Cak Petruk merupakan wong wajib yang harus ada dalam setiap diskursus akar rumput. 

Wong wajib senantiasa membawa vibrasi energi positif yang kuat dalam sebuah komunitas. Meski tidak selalu dominan namun selalu ditunggu datang semua orang. Praupannya sumeh, grapyak sumanak. Tutur katanya bijak menenangkan, pemikirannya mencerahkan dan perilakunya menjadi suri tauladan. Ketika sakit banyak hati yang tulus mendoakan. Simpul auranya mengikat empati siapapun yang pernah srawung dengannya. Tidak ditemui dari semua pembawaanya yang bernuansa intimidasi maupun hegemoni. 

"Kalau ada wong wajib, berarti kosok baline mesti ada yang namanya wong haram ya, Kang," tanya Cak Bagong yang sedari tadi melototi lakon politik negeri Ngastina di layar hp nya.

"Mestinya, Gong..."


8.11.23

Ngopidalu

10 Puisi Jadid Al Farisy

 


Secangkir Kopi dan Kenang Impian

 

Siang terperosok di warung pojok kampung

Secangkir kopi masih menyuguhi kenang mimpi sahabat

Alunan gitar menghantar nostalgia nada-nada lama yang akrab di telinga

Sewindu sudah, ah lebih. Kau tetap selipkan pick gitar di memorimu

Tentang yang tlah jauh, pergi lantas hilang

Mimpimu...

Ini tentang harapan masa depan, kau bilang berulang-ulang

Saat di depan mata namun tak jua kau dekap

Biarkan, katamu lagi, bahkan dari jauh saja matamu sudah teduh, hatimu berhenti mengeluh

Lalu, di jalan kau temukan kedamaian

Di bawah mendung kau jerang arang

Dan pada kerelaan hati, gitarmu berbunyi.

Lamongan,   Januari 2021

 


Wayang di Persimpang Jalan

 

Suara gamelan bertalu, kepyak menghentak

Rupa-rupanya mengalun dari kaset rekaman

Di pojok pasar, pinggir pertigaan jalan arahku pulang

Tiada yang hirau

Mereka tetap lalu lalang meski tokoh-tokoh wayang kau rentang

Percuma Pakdhe, tak kan ada yang datang

Suaramu menghentak meniru adegan perang

Asik memang, kau terbenam di  jagad pewayangan

Tapi Pakdhe, apa tak kau lihat, orang-orang pada buram, malah anggap kau edan

Aku sendiri tak habis pikir Pakdhe, ibarat kacang ninggal lanjaran

Apa jati diri benar tlah hilang?

Ah Pakdhe, diluar niatanmu cari makan atau sekadar memberi hiburan

Sore ini, setidaknya ada titik terang

Ternyata masih ada, dan semoga akan terus ada

Seseorang mencintai wayang, meski di persimpangan jalan

Penghabisan 

Lamongan,  Januari  2021

 

 Melukis Langit Hitam

 

Berkaca pada malam yang diam

Jauh dari hingar angan

Cerita dari negeri yang rindu pagi

Negeri entah ke berapa di atas angin

Ia yang menyulut percik api di tengah guyuran hujan

Bolehlah tuan, putih tak harus dan selalu bersih

Hakikat suci tidak pada yang terlihat, terasa dan tersentuh inderawi,

ujar seorang dari balik ruang terbuang

Sesekali lah tuan, biarlah langit dilukiskan warna hitam

Agar nampak kebersahajaannya, tak akan ia goyah oleh bejibun warna lain

Saya jamin itu, iya saya jamin dengan secangkir kopiku yang juga hitam

Tinggal lenteknya saja

Gresik,  Januari 2021

 

 

Setelah Lama

 

Hitam lamunan mendung membayang

Cerita ada yang tiada

Cangkir-cangkir berkelana dalam lubuk

Tak tenggelam, tak jua nampak

Hidup ada di tepian rana jiwa

Sementara khusuk do'aku menggamit takdir

Akulah tuanmu,

Bukan aku sahaya pasrah

Karena Ia tak henti menjaga semesta raya

Maka di bawah tangannya

Corona tiada 

Lamongan,   Desember 2020

 

 Hanya Sepintas Datang

 

Di terik panas ubun-ubun siang

Rupa-rupanya angin tak sesemilir lamun ilalang gruwang dimamah belalang

Pohon tua tinggal robohnya, katanya

Dedaunan kering kersen dan waru riuh rendah pasrah

Kapan tetiba jatuh di sela tela

Memang, siang terik ini menyuguh sesruput tanda tanya, Kawan

Ia yang biasa berkabar hujan kini hanya sepintas datang

Mengemasi bau ampo dibawa pulang

Serupa mahar meminang kemarau mulai bertandang

Lamongan,   Januari 2021


Kasih Segala Musim

 

Suatu ketika seperti sesaat saja

Datang bertubi-tubi lalu melenyap dalam senyap, sekejap

Derai air dari pelupuk bening telaga tiada beda

Jatuh dari sendu langit atau hingar ombak mendarat karang

Duhai tanah merekah dilimun mendung kethiga

Tak usah suara harap beradu denting katak sendang kering

Kasih dia juga di segala musim

Temukan, atau kau semakin terasing

Gresik,   Januari 2021

 

Do’a Pagi Tukang Sol Sepatu

 

Tlah terbit, tanya dalam buram kabut

Dingin pagi segigil do'a tukang sol sepatu tua

Asap mana mengepul meliukkan sejumput nasi aking kering?

Mata mengeriyip sedang perut melilit

Sepertinya berkawan lapar tak menjamin lekas air muka penuh tabah

Tak juga istrinya

 Lamongan,  Januari 2021

 

Sampai Pada Sebenarnya Singgah

 

Selepas hujan sore membawa teduh di saat seharian berpeluh

Mengemasi lipatan hari teruslah berulang

Dingin tak kurasa angin

Deras menyapu separuh jalan

Gigi bergemeratak, mata mengembun

Kulihat jalanan jernih memantul langit

Sesekali pecah oleh langkah dan lingkar kendara

Tak terasa, tlah sampailah aku pada rintik setia, sebenarnya singgah

 Gresik,  Januari 2021

 

Buka Suara

 

Dinding tembok dan seonggok gitar kayu nangka tua

Senar tak setajam serapah orang-orang bertubuh tanah, akrab terinjak berkawan teriak Nadanya tangis hutan, tanah dan lautan

Juga mereka, diam rapuh menyimpan seribu luka di ulu hati

Semua lagu sembunyi kecuali harmoni, ujarmu lagi

 Lamongan,  Januari 2021

 

Labuhan Bajo

 

Kapal-kapal bersandar sudah

Di kaki langit gunung memagar mimpi-mimpi hari

Tidak mengapa, jeda tak berarti berhenti, bukan.

Angin bertiup layar kembali terkembang

Pada bening embun kedua mata,

kan sampai jua rindu pada titik labuh esok

Saat elegi tak lagi membayangi

Labuhan Bajo, Desember 2020

Gendruwon, Di Bawah Bayang-bayang Kepaten Obor

 

Seperti unen-unen 'sego jangan saklawuhe', ada karakter yg harus ada di setiap gelaran karnaval desa Kendal, yakni gendruwon yg berakar dari kata genderuwo, sejenis makhluk astral. Masih terekam dalam ingatan ketika masa kanak-kanak dulu, hal yg paling dinanti-nanti kemunculannya selain grup drum band adalah gendruwon dari kampung kliwon. Namun, menanti bukan lantaran keingintahuan untuk melihat lebih dekat tetapi lebih pada kapan harus bersembunyi ketika sakwayahwayah gendruwon tiba.
Dahulu, kehadiran gendruwon di tengah2 karnaval begitu epic dan dramatis. Tabuhan jedor diiringi kendang dan ketimplang dari kejauhan seolah membawa aura mistis, menebar ketakutan seperti halnya lolongan serigala di tengah malam sunyi, mencekam. Uniknya, dan sudah menjadi ciri khas kemunculannya, gendruwonnya sendiri tidak pernah berjalan beriringan dg rombongan penabuhnya. Ujugujug makjegunguk sang gendruwon sudah berada di tengah kerumunan orang-orang yg sedang menonton. Dengan sebilah pedang di tangan, sang gendruwon memperagakan gestur yg mengintimidasi, menakut-nakuti para penonton. Tidak heran jika selesai pertunjukkan, rambut gendruwon paling ramai menjadi incaran para orang tua yg anaknya 'sawanen'.
Topeng gendruwon terbuat dari kayu randu utuh. Menurut penuturan paklik Jaelani ketika beliau masih sugeng dulu, penggambaran gendruwon berdasarkan bayangan beliau ketika suatu waktu pernah berinteraksi dg makhluk penghuni wit gempol di belakang rumahnya. Percaya atau tidak, tidak menjadi soal, namun seperti yg kita lihat, wujud gendruwon paklik Jaelani memang seperti beryoni.
Dari pengalaman dan cerita teman-teman, tak sedikit, bahkan mayoritas mengarah pada anggapan yg sama. Gendruwon Kendal memang punya daya 'medeni' yg berbeda dari genderuwon daerah lain. Perihal tersebut, sang pangripta, paklik Jaelani pernah bercerita. Dulu, kisaran tahun 70 an, ketika hendak diarak atau dilakokne, dua gendruwon miliknya diinapkan terlebih di kuburan. Istilahnya diseterekno. Apakah tujuannya agar gendruwonnya menyerap energi dari nuansa sakral pekuburan, atau menjadi semacam penguat sugesti? Ini yg masih menjadi semacam misteri.
Dalam lintas perjalanan panjang sekian dasa warsa, gendruwon masih eksis dalam keterlibatannya menyambung serpihan kenangan tentang seni pertunjukan tempo dulu yg dimiliki oleh masyarakat desa Kendal. Namun, beberapa unsur penting nyatanya telah hilang tergerus modernitas dan arus pemikiran yg belum mampu 'ngugemi' peninggalan para sesepuh. Jika dahulu, pertunjukan gendruwon diiringi rancak tabuh seperangkat alat musik tradisional seperti jedor, kendang dan ketimplang, maka sekarang telah tergantikan dengan alunan musik koplo dan disco yg diputar berdentum dalam rangkaian sound system di atas colt pick up. Itu pun tidak dikhususkan sbg musik pengiring gendruwon. Dalam hal ini, gendruwon lah yg 'nunot njoged'. Tapi bagaimana lagi, saat ini siapa juga yg mau 'ngongsoh2' mikul jedor dan ketimplangan.
Meski tertatih dalam arus distrosi, alangkah naifnya kalau kita menutup kedua mata lantas memalingkan muka menelantarkan secuil pengetahuan yg mungkin saja berguna untuk anak cucu kita. Beruntung sekali penulis masih berkesempatan mengantongi informasi dari sumber yg kredibel terkait instrumen tradisional pengiring gendruwon. Menurut penuturan Bpk. Kadam, salah seorang penabuh ketimplang yg juga merupakan bapak dari penulis, memang sejak dulu tidak semua orang mampu dan terampil memainkan komposisi musik jedoran. Instrumen yg dimainkan mempunyai kemiripan nada dengan instrumen yg mengiringi pencak kuntulan. Pak Carik Munsari (alm.) dan joko palon (alm.) adalah di antara para penabuh tak tergantikan pada masa kejayaan gendruwon dulu.

Memanik ing Ati

 

Dening: Jadid Al Farisy

Gurit katresnan kanggo anakku cah ayu, Haya Mumtazah Bi'aunillah


Ngger, sinduk cah ayu...
Jo pijer mular, mundhak sasadara kinemul mega
Cup menengo, Ngger...
Lha kae rembulane ndadari
Manjer kawuryan ing madyaning ratri
Sumoroting cahya teja anelahi
Byar gumebyar ing wayah wengi
Duh...ngger sinduk memanik ing ati...
Tak gadang lan kekudang-kudang
Mugi mbesuk dadya putri siwi
Tansah migunani tumraping sesami
Demen agawe becik, linambaran kenceng ing pikir uga bening ing galih,
Kinabekten marang nagari lelangkung agami
Bapa ibumu aja nganti lali,
Kepara nyata sliramu, Cah ayu...
Wus dangu anggene bapak ibu antu-antu,
Nem surya suwene nganti seprene
Sawernane lakon dalah lelaku wus dakliwati
Paribasan segara geni pucuking eri
Nora dadekna ajrih lan cilik ati
Kabeh iki mung kanugrahane Gusti
Maha mirah dalah welas Asih...
Pamujiku nduk, Ngger anakku...
Mugi tansah pinaring kabagas warasan
Sajiwa kasarira, wilujeng kalis nir sambikala,
Aamiin...


Gresik kedhaton, 131021

Marketing Langit Si Mbok Bakul getuk



Seperti mendapat percikan ilmu, seorang Mbok bakul getuk yang sedang melapak di pojok pasar wage kecamatan Dukun secara tidak langsung memberiku wejangan banyak hal. Tidak hanya perihal "dol tinuku" saja, namun lebih jauh lagi, tentang kecerdasan sosial yang hari-hari ini mungkin sudah sangat susah dijumpai dalam kehidupan yang serba nafsi-nafsi.

Si Mbok tidak berkutat dalam pusaran bisnis tingkat dewa, seperti kita ketahui berapa sih harga getuk, tiwul, jemblem, lempokan, klanting, glondor wa akhwatuha? Dengan hanya lima ribu perak saja, perut tidak akan keroncongan sampai waktu bedug tiba.

Dari jumlah jajanan pasar yang dijualnya di atas tampah, saya bisa menaksir kira-kira keuntungan si Mbok jika benar-benar telah ludes oleh pelanggan, belum lagi ada sebagian yang harus disisihkan untuk modal biaya produksi esok hari. Namun, sepertinya itu tak jadi soal, si Mbok sudah nyawiji dengan lelakunya. Buktinya, sampai saat ini ia masih melakoni tanggung jawab sosialnya berperan sebagai penjual jajan pasar tombo ngantuk dengan bahagia. Hal ini senada dengan tulisan dari salah satu entrepreneur coach, bahwa bisnis itu tidak melulu tentang bagaimana mendapatkan keuntungan besar secara cepat saja, tetapi juga bagaimana melakukannya dengan konsisten.

Ada hal lain yang saya garis bawahi selain kesederhanaan pola fikir si Mbok bakul getuk. Ketika saya membeli satu bungkus saja, yang berarti bejaji dua ribu perak, si Mbok dengan ketulusan yang terpancar dari praupannya,  memberi imboh irisan gethuk lagi plus parutan kelapanya. Ketika saya tanya apakah tidak rugi Mbok jika imboh diberikan pada setiap pembeli. Biasanya imboh diberikan hanya bagi yang beli banyak. Jawaban si Mbok sungguh luar biasa,

"Gak ono critane, lhe, ngimboi wong kok malah rugi. Lha iki gethuk e ben cepet entek, karuan mene gawe maneh."

Mungkin secara ilmu ekonomi, perilaku bisnis seperti si Mbok tidak masuk dalam kriteria motif ekonomi sama sekali. Teori yang ada dalam buku selalu menjejali bahwa dalam berbisnis, keuntungan materi adalah segala-galanya. Bahkan kalau bisa, dengan modal yang sekecil-kecilnya. Demikian itu barulah bisa disebut bisnisnya dalam keadaan sehat wal afiat.

Namun jika dilihat dari segi hikmah hidup bebrayan (mu'amalah), sikap si Mbok secara tidak langsung akan membuka pintu-pintu dan tabir rejeki min haisu la yahtasib. Bisa jadi, dengan sedekah imboh yang dilakukannya, membawa barokah bagi dimensi kehidupan si Mbok yang lain. Anak yang sehat, keluarga rukun, tetangga guyub, banyak pelanggan yang kemudian menjadi saudara, dan lain-lain. Inilah yang kemudian, oleh banyak ekonom islam disebut sebagai marketing langit.

Pasar Wage, 16 okt 2021

Menjadi Guru yang "Digugu lan Ditiru"

 


Oleh: Jadid Al Farisy, S.Pd

Dalam kerata basa sastra Jawa, sebutan guru mempunyai arti digugu lan ditiru. Dua kata yang sederhana namun mengandung makna yang sangat dalam. Arti tekstual dari digugu adalah dipercaya, dita’ati, atau dituruti. Sedangkan ditiru, berarti yang dicontoh atau dijadikan teladan. Dari kedua kata tersebut, sudah begitu gamblang menjelaskan secara esensi bagaimana seharusnya menjadi seorang guru itu.

Begitu mendalamnya pemaknaan terhadap seorang guru dalam lingkup pemahaman masyarakat Jawa. Seseorang yang menjadi subjek untuk dita’ati dan diteladani, tentu saja bukan orang yang sembarangan. Ia harus benar-benar secara dhohir dan batin mempunyai daya linuwih untuk pantas dijadikan panutan. Daya linuwih di sini bisa berarti ilmunya yang nyegara dan juga akhlaqnya yang mulia.

Pada hakikatnya, untuk menjadi seorang guru tidaklah mudah seperti menjalani profesi dan pekerjaan yang lain. Seorang guru terlebih dahulu dituntut untuk bisa menjadi guru bagi dirinya sendiri sebelum menjadi guru untuk orang lain. Ia harus bisa menyetel hati, ucapan dan perilaku dirinya lebih dahulu sebelum mendidik akhlaq para muridnya. Apa yang diperintahkan pada muridnya haruslah benar-benar ia telah lebih dulu mengamalkannya.

Seorang guru dalam prosesnya tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan saja, namun juga harus bisa mendidik dan membimbing sang murid agar mempunyai budi pekerti yang luhur. Kedua fungsi inilah yang merupakan pengejahwantahan dari makna yang tersirat dalam kata guru, digugu kealiman ilmunya dan ditiru kewira’ian akhlaqnya.

Jika berbicara tentang guru, maka tidak sekedar tentang profesi dan status sosial di masyarakat. Lebih dari itu, sejatinya menjadi guru adalah kewajiban ruhaniyah semua. Apalagi orang yang mempunyai ilmu, maka wajib untuk mengamalkan dengan menyampaikannya pada orang lain.

Jangan sampai ilmu yang dimiliki hanya seperti pohon yang tidak berbuah. Seperti yang disebutkan dalam maqolah Arab, al ‘ilmu bila amalin, kassajari bila tsamarin. Pemahaman ini mengisyaratkan bahwa semua orang pun bisa menjadi dan dianggap sebagai guru, baik bagi diri, keluarga maupun masyarakat sekitarnya.

Idealnya, seorang guru harus bisa meneladani Nabi Muhammad SAW melalui sifat kerosulan beliau. Adapun sifat-sifat wajib yang ada dalam diri Rosul adalah Shidiq, Amanah, Tabligh dan Fatonah. Jika tidak bisa meneladani secara sempurna, paling tidak keempat sifat tersebut harus menjadi ruh yang melambari niat dan acuan segala ucapan dan tindak laku kita sebagai seorang guru.

Sifat yang pertama adalah shidiq yang berarti jujur. Seorang guru harus menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Saat-saat ini, nampaknya nilai kejujuran sudah tidak begitu diutamakan. Tidak bermaksud merendahkan, nyatanya saat ini banyak sekali kaum terpelajar yang tergolong cerdik cendekia, namun potensi kepandaiannya itu digunakan menjadi senjata untuk merugikan orang lain. Dalam masyarakat jawa biasanya disebut dengan idiom  pinter nanging gawe minteri.

Seorang guru yang menggenggam nilai kejujuran dalam ucapan, hati dan perilakunya, ia bagaikan pelita yang menerangi jiwa anak didiknya. Guru ibarat sebuah kendhi yang berisi air. Jika dalamnya kendhi serta airnya bersih, maka yang dialirkan ke gelas, cangkir dan wadah-wadah yang lain tentunya juga akan bersih.

Selanjutnya sifat rosul yang kedua, yaitu amanah atau dapat dipercaya. Seorang guru yang amanah, pastilah ia akan bersungguh-sungguh dari hati untuk melaksanakan setiap tugas yang diembannya.

Seorang guru dituntut untuk blakasutha, apa adanya, dan selalu mengedepankan kesungguhan dalam pengabdiannya. Jika sedikit saja sikap tidak amanah itu menghinggapi diri seorang guru, maka bagaimana bisa menjamin anak didiknya yang notabene adalah seorang generasi penerus bangsa bisa akan ngugemi kesungguhan. Jika seorang pendidik saja sudah akrab dengan istilah khianat, bagaimana dengan keadaan anak-anak yang berada dalam didikannya?

Pada sifat tabligh, seorang guru harus bisa menyampaikan semua ilmunya pada anak didiknya tanpa harus ada yang disembunyikan. Terkait macam-macam personal guru perihal cara menyampaikan ilmu, penulis pernah mendengar sebuah lelucon tapi juga bisa untuk diambil pelajaran.

Bahwa seorang guru dalam lembaga pendidikan tidaklah sama dengan guru dalam dunia persilatan. Seorang guru dalam dunia pendidikan akan memberikan semua ilmu yang ia punya pada muridnya. Ia pun akan merasa sangat bangga dan bahagia jika ada anak didiknya yang bisa melebihinya dalam hal keilmuan maupun pengetahuan. Lain halnya dengan guru dalam perguruan silat, meskipun semua ilmu kanuragan telah ia turunkan ke muridnya, namun tetap ia masih menyimpan satu ilmu pamungkas yang suatu saat bisa diandalkannya, misalnya dalam keadaan genting ketika sang murid asuhannya ada yang berkhianat dan memusuhinya. Begitulah yang sering diceritakan dalam film-film dunia persilatan.

Selanjutnya pada sifat fathonah yang berarti cerdas. Seorang guru haruslah mempunyai berbagai macam kecerdasan. Cerdas disini tidak berarti hanya  dalam ranah IQ (Intelligence quotient) saja, namun juga termasuk EQ (emotional quotient) dan SQ (spiritual quotient).

Dalam proses transfer ilmu pengetahuan, IQ mutlak dibutuhkan. Namun sebagai pendidik, seorang guru harus membekali dirinya dengan kecerdasan emosional agar mampu dengan mudah berkomunikasi dan memahami anak didiknya.

Sedangkan seorang guru yang menguasai kecerdasan spiritual, ia akan dengan mudah melambari semua pengabdian dan perjuangannya lillahi ta’ala. Jika sudah demikian, maka semua aktifitas, baik proses transfer ilmu pengetahuan maupun mendidik akan berada dalam lingkar ikhtiar dhohir dan batin. Usaha untuk menjadikan anak didiknya sukses sejatinya tidak hanya berkutat pada proses pembelajaran saja, tetapi harus diiringi juga dengan tirakat dari guru tersebut dengan mendo’akan sang murid tiada putus.

Tugas yang diemban seorang guru sungguh amatlah berat. Karena guru adalah orang tua kedua bagi para murid, ia juga harus bertanggung jawab baik secara keilmuan, sikap dan perilaku yang telah diajarkan pada anak-anaknya.

Tanggung jawab tersebut tidak hanya berakhir ketika sang anak sudah lulus sekolah. Karena secara batin, sanad keilmuan itu akan terus ada antara sang guru dengan anak muridnya. Bahkan sanad keilmuan tersebut masih tersambung hingga pada keilmuan gurunya guru tersebut hingga terus ke atas.

Hal inilah yang kemudian bisa menjadi sebab berkah dan manfaatnya ilmu yang dimiliki sang murid dikemudian hari, tentunya dengan prasyarat sang murid tetap menjaga ketawadhuannya pada gurunya. Karena sampai kapanpun, hubungan seorang guru dan murid tidak pernah mengenal kata bekas atau mantan.

Lamongan, 26 November 2019

Tulisan ini dimuat di platform literasi online Qureta.com edisi hari Rabu, 27 November 2019

Satrio Piningit (I)

Ketika bicara pemimpin, fikiran orang kebanyakan akan selalu tertuju pada seseorang, lembaga atau institusi dimana ada subjek menjadi center yang bertugas memimpin objek yang harus dan butuh dipimpin. Para pemimpin bekerja pada ranah mengkonsep, mengarahkan, menjalankan, mengorganisir serta berkewajiban mengevaluasi segala hal yang berkaitan dengan bidang tanggung jawabnya. Pemaknaan arti pemimpin tergantung dari sudut pandang mana ia ambil, di ruang lingkup mana ia tinggal. Sehingga perbedaan argumentasi adalah menjadi keniscayaan.


Terlepas dari proses yang melandasi terbentuknya seorang pemimpin, juga diantara butuh dan tidaknya, setuju dan menolaknya seorang yang dalam sistem harus menjadi bawahannya pemimpin adalah sebuah kepastian yang secara sunnatullah ada di tengah-tengah kehidupan manusia. Ini kalau kita mengkaji teori terbentuknya pemimpin antara yang merupakan rekadaya manusia dan yang secara alami tanpa syarat apapun yang mengiringinya.


Ketika sebuah keadaan sosio culture sebuah komunitas masyarakat berada pada titik resesi, kronis atau akut yang meliputi semua aspek, dari titik itu pula sebenarnya terjadi kulminasi partikel-partikel cahaya yang siap menyemburat menjadi damaring kahanan. Lingkaran cahaya itu boleh kita sebut ratu adil satrio pingit kalau dalam terminologi budaya Jawa, atau sang imam Mahdi dalam islam.


Sebagian orang pintar (sebutan orang yang linuwih) kejawen meramalkan bahwa untuk sampai pada hal tersebut harus melalui sebuah proses yang dalam pewayangan disebut dengan perang brubuh, sebuah keadaan chaos yang akan benar-benar menghasilkan sebuah perubahan besar dalam dimensi apapun. Bisa seorang ratu Angkara tergantikan yang lebih berbudi bawa leksana, seorang ksatria yang telah purna lelana brata didaulat menjadi ratu, seorang ratu yang lengser keprabon menjadi brahmana atau menjalani kehidupan yang menjauhi urusan duniawi dan hanya mempersembahkan jiwa raganya kepada ingkang murbeing dumadi. Atau banyak lagi lakon-lakon yang menjadi ending dari sebuah alur hidup.