Secangkir
Kopi dan Kenang Impian
Siang
terperosok di warung pojok kampung
Secangkir
kopi masih menyuguhi kenang mimpi sahabat
Alunan
gitar menghantar nostalgia nada-nada lama yang akrab di telinga
Sewindu
sudah, ah lebih. Kau tetap selipkan pick gitar di memorimu
Tentang
yang tlah jauh, pergi lantas hilang
Mimpimu...
Ini
tentang harapan masa depan, kau bilang berulang-ulang
Saat
di depan mata namun tak jua kau dekap
Biarkan,
katamu lagi, bahkan dari jauh saja matamu sudah teduh, hatimu berhenti mengeluh
Lalu,
di jalan kau temukan kedamaian
Di
bawah mendung kau jerang arang
Dan
pada kerelaan hati, gitarmu berbunyi.
Lamongan,
Januari 2021
Wayang
di Persimpang Jalan
Suara
gamelan bertalu, kepyak menghentak
Rupa-rupanya
mengalun dari kaset rekaman
Di
pojok pasar, pinggir pertigaan jalan arahku pulang
Tiada
yang hirau
Mereka
tetap lalu lalang meski tokoh-tokoh wayang kau rentang
Percuma
Pakdhe, tak kan ada yang datang
Suaramu
menghentak meniru adegan perang
Asik
memang, kau terbenam di jagad pewayangan
Tapi
Pakdhe, apa tak kau lihat, orang-orang pada buram, malah anggap kau edan
Aku
sendiri tak habis pikir Pakdhe, ibarat kacang ninggal lanjaran
Apa
jati diri benar tlah hilang?
Ah
Pakdhe, diluar niatanmu cari makan atau sekadar memberi hiburan
Sore
ini, setidaknya ada titik terang
Ternyata
masih ada, dan semoga akan terus ada
Seseorang
mencintai wayang, meski di persimpangan jalan
Penghabisan
Lamongan,
Januari 2021
Melukis
Langit Hitam
Berkaca
pada malam yang diam
Jauh
dari hingar angan
Cerita
dari negeri yang rindu pagi
Negeri
entah ke berapa di atas angin
Ia
yang menyulut percik api di tengah guyuran hujan
Bolehlah
tuan, putih tak harus dan selalu bersih
Hakikat
suci tidak pada yang terlihat, terasa dan tersentuh inderawi,
ujar
seorang dari balik ruang terbuang
Sesekali
lah tuan, biarlah langit dilukiskan warna hitam
Agar
nampak kebersahajaannya, tak akan ia goyah oleh bejibun warna lain
Saya
jamin itu, iya saya jamin dengan secangkir kopiku yang juga hitam
Tinggal
lenteknya saja
Gresik,
Januari 2021
Setelah
Lama
Hitam
lamunan mendung membayang
Cerita
ada yang tiada
Cangkir-cangkir
berkelana dalam lubuk
Tak
tenggelam, tak jua nampak
Hidup
ada di tepian rana jiwa
Sementara
khusuk do'aku menggamit takdir
Akulah
tuanmu,
Bukan
aku sahaya pasrah
Karena
Ia tak henti menjaga semesta raya
Maka
di bawah tangannya
Corona
tiada
Lamongan, Desember 2020
Hanya
Sepintas Datang
Di
terik panas ubun-ubun siang
Rupa-rupanya
angin tak sesemilir lamun ilalang gruwang dimamah belalang
Pohon
tua tinggal robohnya, katanya
Dedaunan
kering kersen dan waru riuh rendah pasrah
Kapan
tetiba jatuh di sela tela
Memang,
siang terik ini menyuguh sesruput tanda tanya, Kawan
Ia
yang biasa berkabar hujan kini hanya sepintas datang
Mengemasi
bau ampo dibawa pulang
Serupa
mahar meminang kemarau mulai bertandang
Lamongan, Januari 2021
Kasih
Segala Musim
Suatu
ketika seperti sesaat saja
Datang
bertubi-tubi lalu melenyap dalam senyap, sekejap
Derai
air dari pelupuk bening telaga tiada beda
Jatuh
dari sendu langit atau hingar ombak mendarat karang
Duhai
tanah merekah dilimun mendung kethiga
Tak
usah suara harap beradu denting katak sendang kering
Kasih
dia juga di segala musim
Temukan,
atau kau semakin terasing
Gresik, Januari 2021
Do’a
Pagi Tukang Sol Sepatu
Tlah
terbit, tanya dalam buram kabut
Dingin
pagi segigil do'a tukang sol sepatu tua
Asap
mana mengepul meliukkan sejumput nasi aking kering?
Mata
mengeriyip sedang perut melilit
Sepertinya
berkawan lapar tak menjamin lekas air muka penuh tabah
Tak
juga istrinya
Lamongan,
Januari 2021
Sampai
Pada Sebenarnya Singgah
Selepas
hujan sore membawa teduh di saat seharian berpeluh
Mengemasi
lipatan hari teruslah berulang
Dingin
tak kurasa angin
Deras
menyapu separuh jalan
Gigi
bergemeratak, mata mengembun
Kulihat
jalanan jernih memantul langit
Sesekali
pecah oleh langkah dan lingkar kendara
Tak
terasa, tlah sampailah aku pada rintik setia, sebenarnya singgah
Gresik,
Januari 2021
Buka
Suara
Dinding
tembok dan seonggok gitar kayu nangka tua
Senar
tak setajam serapah orang-orang bertubuh tanah, akrab terinjak berkawan teriak
Nadanya tangis hutan, tanah dan lautan
Juga
mereka, diam rapuh menyimpan seribu luka di ulu hati
Semua
lagu sembunyi kecuali harmoni, ujarmu lagi
Lamongan, Januari 2021
Labuhan
Bajo
Kapal-kapal
bersandar sudah
Di
kaki langit gunung memagar mimpi-mimpi hari
Tidak
mengapa, jeda tak berarti berhenti, bukan.
Angin
bertiup layar kembali terkembang
Pada
bening embun kedua mata,
kan
sampai jua rindu pada titik labuh esok
Saat
elegi tak lagi membayangi
Labuhan
Bajo, Desember 2020