Marketing Langit Si Mbok Bakul getuk



Seperti mendapat percikan ilmu, seorang Mbok bakul getuk yang sedang melapak di pojok pasar wage kecamatan Dukun secara tidak langsung memberiku wejangan banyak hal. Tidak hanya perihal "dol tinuku" saja, namun lebih jauh lagi, tentang kecerdasan sosial yang hari-hari ini mungkin sudah sangat susah dijumpai dalam kehidupan yang serba nafsi-nafsi.

Si Mbok tidak berkutat dalam pusaran bisnis tingkat dewa, seperti kita ketahui berapa sih harga getuk, tiwul, jemblem, lempokan, klanting, glondor wa akhwatuha? Dengan hanya lima ribu perak saja, perut tidak akan keroncongan sampai waktu bedug tiba.

Dari jumlah jajanan pasar yang dijualnya di atas tampah, saya bisa menaksir kira-kira keuntungan si Mbok jika benar-benar telah ludes oleh pelanggan, belum lagi ada sebagian yang harus disisihkan untuk modal biaya produksi esok hari. Namun, sepertinya itu tak jadi soal, si Mbok sudah nyawiji dengan lelakunya. Buktinya, sampai saat ini ia masih melakoni tanggung jawab sosialnya berperan sebagai penjual jajan pasar tombo ngantuk dengan bahagia. Hal ini senada dengan tulisan dari salah satu entrepreneur coach, bahwa bisnis itu tidak melulu tentang bagaimana mendapatkan keuntungan besar secara cepat saja, tetapi juga bagaimana melakukannya dengan konsisten.

Ada hal lain yang saya garis bawahi selain kesederhanaan pola fikir si Mbok bakul getuk. Ketika saya membeli satu bungkus saja, yang berarti bejaji dua ribu perak, si Mbok dengan ketulusan yang terpancar dari praupannya,  memberi imboh irisan gethuk lagi plus parutan kelapanya. Ketika saya tanya apakah tidak rugi Mbok jika imboh diberikan pada setiap pembeli. Biasanya imboh diberikan hanya bagi yang beli banyak. Jawaban si Mbok sungguh luar biasa,

"Gak ono critane, lhe, ngimboi wong kok malah rugi. Lha iki gethuk e ben cepet entek, karuan mene gawe maneh."

Mungkin secara ilmu ekonomi, perilaku bisnis seperti si Mbok tidak masuk dalam kriteria motif ekonomi sama sekali. Teori yang ada dalam buku selalu menjejali bahwa dalam berbisnis, keuntungan materi adalah segala-galanya. Bahkan kalau bisa, dengan modal yang sekecil-kecilnya. Demikian itu barulah bisa disebut bisnisnya dalam keadaan sehat wal afiat.

Namun jika dilihat dari segi hikmah hidup bebrayan (mu'amalah), sikap si Mbok secara tidak langsung akan membuka pintu-pintu dan tabir rejeki min haisu la yahtasib. Bisa jadi, dengan sedekah imboh yang dilakukannya, membawa barokah bagi dimensi kehidupan si Mbok yang lain. Anak yang sehat, keluarga rukun, tetangga guyub, banyak pelanggan yang kemudian menjadi saudara, dan lain-lain. Inilah yang kemudian, oleh banyak ekonom islam disebut sebagai marketing langit.

Pasar Wage, 16 okt 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar