Seperti unen-unen 'sego jangan saklawuhe', ada karakter yg harus ada di setiap gelaran karnaval desa Kendal, yakni gendruwon yg berakar dari kata genderuwo, sejenis makhluk astral. Masih terekam dalam ingatan ketika masa kanak-kanak dulu, hal yg paling dinanti-nanti kemunculannya selain grup drum band adalah gendruwon dari kampung kliwon. Namun, menanti bukan lantaran keingintahuan untuk melihat lebih dekat tetapi lebih pada kapan harus bersembunyi ketika sakwayahwayah gendruwon tiba.
Dahulu, kehadiran gendruwon di tengah2 karnaval begitu epic dan dramatis. Tabuhan jedor diiringi kendang dan ketimplang dari kejauhan seolah membawa aura mistis, menebar ketakutan seperti halnya lolongan serigala di tengah malam sunyi, mencekam. Uniknya, dan sudah menjadi ciri khas kemunculannya, gendruwonnya sendiri tidak pernah berjalan beriringan dg rombongan penabuhnya. Ujugujug makjegunguk sang gendruwon sudah berada di tengah kerumunan orang-orang yg sedang menonton. Dengan sebilah pedang di tangan, sang gendruwon memperagakan gestur yg mengintimidasi, menakut-nakuti para penonton. Tidak heran jika selesai pertunjukkan, rambut gendruwon paling ramai menjadi incaran para orang tua yg anaknya 'sawanen'.
Topeng gendruwon terbuat dari kayu randu utuh. Menurut penuturan paklik Jaelani ketika beliau masih sugeng dulu, penggambaran gendruwon berdasarkan bayangan beliau ketika suatu waktu pernah berinteraksi dg makhluk penghuni wit gempol di belakang rumahnya. Percaya atau tidak, tidak menjadi soal, namun seperti yg kita lihat, wujud gendruwon paklik Jaelani memang seperti beryoni.
Dari pengalaman dan cerita teman-teman, tak sedikit, bahkan mayoritas mengarah pada anggapan yg sama. Gendruwon Kendal memang punya daya 'medeni' yg berbeda dari genderuwon daerah lain. Perihal tersebut, sang pangripta, paklik Jaelani pernah bercerita. Dulu, kisaran tahun 70 an, ketika hendak diarak atau dilakokne, dua gendruwon miliknya diinapkan terlebih di kuburan. Istilahnya diseterekno. Apakah tujuannya agar gendruwonnya menyerap energi dari nuansa sakral pekuburan, atau menjadi semacam penguat sugesti? Ini yg masih menjadi semacam misteri.
Dalam lintas perjalanan panjang sekian dasa warsa, gendruwon masih eksis dalam keterlibatannya menyambung serpihan kenangan tentang seni pertunjukan tempo dulu yg dimiliki oleh masyarakat desa Kendal. Namun, beberapa unsur penting nyatanya telah hilang tergerus modernitas dan arus pemikiran yg belum mampu 'ngugemi' peninggalan para sesepuh. Jika dahulu, pertunjukan gendruwon diiringi rancak tabuh seperangkat alat musik tradisional seperti jedor, kendang dan ketimplang, maka sekarang telah tergantikan dengan alunan musik koplo dan disco yg diputar berdentum dalam rangkaian sound system di atas colt pick up. Itu pun tidak dikhususkan sbg musik pengiring gendruwon. Dalam hal ini, gendruwon lah yg 'nunot njoged'. Tapi bagaimana lagi, saat ini siapa juga yg mau 'ngongsoh2' mikul jedor dan ketimplangan.
Meski tertatih dalam arus distrosi, alangkah naifnya kalau kita menutup kedua mata lantas memalingkan muka menelantarkan secuil pengetahuan yg mungkin saja berguna untuk anak cucu kita. Beruntung sekali penulis masih berkesempatan mengantongi informasi dari sumber yg kredibel terkait instrumen tradisional pengiring gendruwon. Menurut penuturan Bpk. Kadam, salah seorang penabuh ketimplang yg juga merupakan bapak dari penulis, memang sejak dulu tidak semua orang mampu dan terampil memainkan komposisi musik jedoran. Instrumen yg dimainkan mempunyai kemiripan nada dengan instrumen yg mengiringi pencak kuntulan. Pak Carik Munsari (alm.) dan joko palon (alm.) adalah di antara para penabuh tak tergantikan pada masa kejayaan gendruwon dulu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar