10 Puisi Jadid Al Farisy

 


Secangkir Kopi dan Kenang Impian

 

Siang terperosok di warung pojok kampung

Secangkir kopi masih menyuguhi kenang mimpi sahabat

Alunan gitar menghantar nostalgia nada-nada lama yang akrab di telinga

Sewindu sudah, ah lebih. Kau tetap selipkan pick gitar di memorimu

Tentang yang tlah jauh, pergi lantas hilang

Mimpimu...

Ini tentang harapan masa depan, kau bilang berulang-ulang

Saat di depan mata namun tak jua kau dekap

Biarkan, katamu lagi, bahkan dari jauh saja matamu sudah teduh, hatimu berhenti mengeluh

Lalu, di jalan kau temukan kedamaian

Di bawah mendung kau jerang arang

Dan pada kerelaan hati, gitarmu berbunyi.

Lamongan,   Januari 2021

 


Wayang di Persimpang Jalan

 

Suara gamelan bertalu, kepyak menghentak

Rupa-rupanya mengalun dari kaset rekaman

Di pojok pasar, pinggir pertigaan jalan arahku pulang

Tiada yang hirau

Mereka tetap lalu lalang meski tokoh-tokoh wayang kau rentang

Percuma Pakdhe, tak kan ada yang datang

Suaramu menghentak meniru adegan perang

Asik memang, kau terbenam di  jagad pewayangan

Tapi Pakdhe, apa tak kau lihat, orang-orang pada buram, malah anggap kau edan

Aku sendiri tak habis pikir Pakdhe, ibarat kacang ninggal lanjaran

Apa jati diri benar tlah hilang?

Ah Pakdhe, diluar niatanmu cari makan atau sekadar memberi hiburan

Sore ini, setidaknya ada titik terang

Ternyata masih ada, dan semoga akan terus ada

Seseorang mencintai wayang, meski di persimpangan jalan

Penghabisan 

Lamongan,  Januari  2021

 

 Melukis Langit Hitam

 

Berkaca pada malam yang diam

Jauh dari hingar angan

Cerita dari negeri yang rindu pagi

Negeri entah ke berapa di atas angin

Ia yang menyulut percik api di tengah guyuran hujan

Bolehlah tuan, putih tak harus dan selalu bersih

Hakikat suci tidak pada yang terlihat, terasa dan tersentuh inderawi,

ujar seorang dari balik ruang terbuang

Sesekali lah tuan, biarlah langit dilukiskan warna hitam

Agar nampak kebersahajaannya, tak akan ia goyah oleh bejibun warna lain

Saya jamin itu, iya saya jamin dengan secangkir kopiku yang juga hitam

Tinggal lenteknya saja

Gresik,  Januari 2021

 

 

Setelah Lama

 

Hitam lamunan mendung membayang

Cerita ada yang tiada

Cangkir-cangkir berkelana dalam lubuk

Tak tenggelam, tak jua nampak

Hidup ada di tepian rana jiwa

Sementara khusuk do'aku menggamit takdir

Akulah tuanmu,

Bukan aku sahaya pasrah

Karena Ia tak henti menjaga semesta raya

Maka di bawah tangannya

Corona tiada 

Lamongan,   Desember 2020

 

 Hanya Sepintas Datang

 

Di terik panas ubun-ubun siang

Rupa-rupanya angin tak sesemilir lamun ilalang gruwang dimamah belalang

Pohon tua tinggal robohnya, katanya

Dedaunan kering kersen dan waru riuh rendah pasrah

Kapan tetiba jatuh di sela tela

Memang, siang terik ini menyuguh sesruput tanda tanya, Kawan

Ia yang biasa berkabar hujan kini hanya sepintas datang

Mengemasi bau ampo dibawa pulang

Serupa mahar meminang kemarau mulai bertandang

Lamongan,   Januari 2021


Kasih Segala Musim

 

Suatu ketika seperti sesaat saja

Datang bertubi-tubi lalu melenyap dalam senyap, sekejap

Derai air dari pelupuk bening telaga tiada beda

Jatuh dari sendu langit atau hingar ombak mendarat karang

Duhai tanah merekah dilimun mendung kethiga

Tak usah suara harap beradu denting katak sendang kering

Kasih dia juga di segala musim

Temukan, atau kau semakin terasing

Gresik,   Januari 2021

 

Do’a Pagi Tukang Sol Sepatu

 

Tlah terbit, tanya dalam buram kabut

Dingin pagi segigil do'a tukang sol sepatu tua

Asap mana mengepul meliukkan sejumput nasi aking kering?

Mata mengeriyip sedang perut melilit

Sepertinya berkawan lapar tak menjamin lekas air muka penuh tabah

Tak juga istrinya

 Lamongan,  Januari 2021

 

Sampai Pada Sebenarnya Singgah

 

Selepas hujan sore membawa teduh di saat seharian berpeluh

Mengemasi lipatan hari teruslah berulang

Dingin tak kurasa angin

Deras menyapu separuh jalan

Gigi bergemeratak, mata mengembun

Kulihat jalanan jernih memantul langit

Sesekali pecah oleh langkah dan lingkar kendara

Tak terasa, tlah sampailah aku pada rintik setia, sebenarnya singgah

 Gresik,  Januari 2021

 

Buka Suara

 

Dinding tembok dan seonggok gitar kayu nangka tua

Senar tak setajam serapah orang-orang bertubuh tanah, akrab terinjak berkawan teriak Nadanya tangis hutan, tanah dan lautan

Juga mereka, diam rapuh menyimpan seribu luka di ulu hati

Semua lagu sembunyi kecuali harmoni, ujarmu lagi

 Lamongan,  Januari 2021

 

Labuhan Bajo

 

Kapal-kapal bersandar sudah

Di kaki langit gunung memagar mimpi-mimpi hari

Tidak mengapa, jeda tak berarti berhenti, bukan.

Angin bertiup layar kembali terkembang

Pada bening embun kedua mata,

kan sampai jua rindu pada titik labuh esok

Saat elegi tak lagi membayangi

Labuhan Bajo, Desember 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar