Sesuatu hal yang lumrah memang, jika dalam sebuah lingkar ngopi menyaratkan komposisi jangkep semua karakter hadir demi ke'gayeng'an dialektika. Jika ada satu saja karib seperngopian yang alpha, katon momplong, ada kelesuan tersendiri terlebih ketika beberapa rumusan dialektika butuh karakternya sebagai penyeimbang nuansa.
Kata boleh lah merangkai maksud, tapi tidak sama sekali mampu me'wedar' sebuah makna. Bagaimanapun juga keseimbangan yang jomplang tak kan bisa dijelaskan bahkan oleh seorang ahli mantiq dan balagoh pun. Roso, ya, sebuah istilah frekwensi batiniyah pada intinya yang melambari maujud nya sebuah lingkar ngopi.
Cak Gareng, satu di antara kawulo alit member lingkar ngopi sumeleh yang bisa menengarai embusan kesenduan tersebut. Pasalnya, Cak Petruk yang meski biasanya selalu "ana sega ndisik i neda, tut wuri mbayar keri" keberadaannya bak ditelan rimba. Raib, kata Bang Haji Raden Oma Irama.
Kepekaan sang Panakawan mbarep mungkin tak selalu mengindikasikan ngelmu weruh sakdurunge winarah, tetapi yang pasti sebuah kelebihan non logic yang ia dapatkan berkat keistiqomahannya sesrawungan yang benarbenar dilambari dari roso rinoso sajroning ati. Tak ada panggilan setulus ajakan ngopi sumeleh, begitulah asas dasarnya.
Cak Petruk bukan siapasiapa dan pun tak jadi apaapa. Ia hanya suket garing yang kerap diinjak dan disepelekan oleh kaum elit yang adigang, adigung, adiguna yang memuja kekuasaan, kekayaan dan kepintaran. Namun bagi jamaah ngopi sumeleh, Cak Petruk merupakan wong wajib yang harus ada dalam setiap diskursus akar rumput.
Wong wajib senantiasa membawa vibrasi energi positif yang kuat dalam sebuah komunitas. Meski tidak selalu dominan namun selalu ditunggu datang semua orang. Praupannya sumeh, grapyak sumanak. Tutur katanya bijak menenangkan, pemikirannya mencerahkan dan perilakunya menjadi suri tauladan. Ketika sakit banyak hati yang tulus mendoakan. Simpul auranya mengikat empati siapapun yang pernah srawung dengannya. Tidak ditemui dari semua pembawaanya yang bernuansa intimidasi maupun hegemoni.
"Kalau ada wong wajib, berarti kosok baline mesti ada yang namanya wong haram ya, Kang," tanya Cak Bagong yang sedari tadi melototi lakon politik negeri Ngastina di layar hp nya.
"Mestinya, Gong..."
8.11.23
Ngopidalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar