Seperti tak pernah bosan, tiap kali ada kesempatan ngopi dengan teman-teman seangan dan seperjuangan selalu saja diangkatlah tajuk permasalahan yang menjadi daya tarik tersendiri untuk diurai. Berceritakan sebuah keadaan yang sudah collapse dari timeline sejarah dusun. Meski menarik namun tersimpan sebuah kenyataan pahit dan memprihatinkan bagi sekumpulan orang yang telah terpisah jauh dari rantai sejarah itu.
"Yang bisa di upayakan adalah mencoba kembali menelisik cerita orang tua bahwa dulu memang ada sebuah pondok pesantren yang dibangun diatas bumi desa ini".Terang bejo salah seorang yang dianggap paling senior diantara lingkar jama'ah ngopi tersebut.
Memang menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi para penggiat jandon tersebut ketika sudah membicarakan masa lalu desanya yang dulunya kondang kaloka diantara desa-desa sekitarnya sebagai desa punjere wong pinter.
"Pancen harusnya kayak gitu, na masalahnya yang masih bertalian kuat dengan pelaku sejarah seolah tidak ada tekad untuk ya...paling tidak mendem jero mikul duwur".Waras menimpali.
"Maksudmu anak turunnya gitu?". Sergah punjul.
"sopo maneh ? " Jawab waras .
" Kalau dipikir, memang bener. Kita ini secara nasab ya ndak nyambung dengan keluarga ndalem pak Kyai. Secara strata sosial ya ndak mengemban tanggung jawab untuk membuka tabir keberadaan pondok tempo dulu itu. Awak dewe lak ibarate gombal mukiyo, diperlukno nek kanggo ngelap reged. kalau sudah selesai ya diuncalke latar.Tapi secara sosio culture, kita tetep duweni kewajiban nduduk ndudah tetilarane para sesepuh biyen". Bejo tambah semangat menjelaskan argumennya sembari nyruput kopi.
Semua manggut-manggut mendengarkan keterangan dari bejo meskipun agak kurang mudeng juga karena banyak istilah asing bagi telinga mereka. Pada akhirnya mereka saling berolah pikir untuk sekedar menyambungkan benang merah dari tiap serpihan kaweruh yang mereka ketahui masing-masing dari berbagai sumber.
Diyakini benar adannya bahwa konon pondok pesantren yang dibangun di tepian bengawan solo sebelah barat daya desa tersebut benar-benar ada dan bukan dongeng pengantar tidur semata. Meskipun tidak ada sama sekali yang tertinggal dari bekas bangunan fisiknya. Diceritakan selain sebagai tempat menimba ilmu, pondok tersebut juga dipakai sebagai kawah candradimuka pendadaran laskar rakyat yang bergerilya melawan kolonial belanda.
Selain dikenal sangat arif, Kyai Nur begitulah masyarakat memanggil beliau, juga sangat mumpuni olah kanuragan. Salah satu cerita yang paling fenomenal dan heroik adalah ketika saat penyerbuan ke markas belanda di desa sebelah yang sudah dikuasainya. Beliau merapalkan doa (semacam ajian sirep) yang diarahkan ke markas belanda.
Sebuah karomah seorang Kyai yang pinunjul, ditampakkan menjadi sebuah kejadian diluar nalar manusia biasa. Waktu itu adalah musim kemarau namun tiba-tiba mendung berarak dan menurunkan butiran-butiran gerimis yang membuat seluruh pasukan belanda tertidur pulas seperti layaknya orang pingsan. Kontan saja para pengikut kyai Nur dengan mudah membunuh satu persatu hingga habis satu compi pasukan di markas belanda.
Cerita ini secara getok tular sudah sangat mengakar dikalangan orang-orang desa. Selain cerita tentang daya linuwih Sang kyai, Juga diceritakan bahwa beliau mempunyai tosan aji atau pusaka sebilah pedang yang konon sangat bertuah. Sebuah senjata yang menjadi piandel kyai dan pengikutnya para gerilyawan dalam menumpas penjajah. Namun hingga kini keberadaan pusaka tersebut masih sangat misterius.
Banyak para kolektor yang memburunya. Pernah sekali ketika sang Kyai masih gesang ditawarlah pedang itu dengan harga 300 rupiah (Jika di konversi di tahun 2017 senilai 300 juta). Namun bagi Kyai yang zhuhud ini, material tidaklah menjadi tujuan sehingga gagallah sang kolektor mendapatkan pedang tersebut. Orang-orang masih percaya bahwa pedang itu masih tersimpan di suatu tempat yang tersembunyi dimana tidak ada orang yang mengetahui. Benar dan tidaknya anggapan itu sepertinya masih menjadi sebuah teka-teki yang akan menarik minat orang-orang seperti bejo, waras, punjul dan kawan-kawan untuk terus menelusuri jejak pondok pesantren penggembleng laskar rakyat.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar