Bejo pagi setengah siang itu lagi ngomel sendiri. Pasalnya pak RT kampung senin memberlakukan sebuah aturan yang dinilainya tidak berpihak pada kawula alit.
"Masak semua warga kampung senin wajib memasang closed di kamar mandi masing-masing" gerutu bejo sambil ngarit lamtoro di pekarangan rumah suwung wak kaji slamet buat pakan kambing piaraannya."
"Dasar RT ndak tahu kahanan"
"Hush..." Tiba-tiba waras datang dengan sepeda onthel kunonya menyahuti dari jalan.
"Awakmu ras"
"Ndak kurang banter ta kang ngomelnya, sekalian pakai langgar kampung biar menjadi viral.he..."
"Onok wae, saya ndak se mainstream itu ras. Yang menjadi viral kebanyakan cuma sensasinya, isinya kotong mlompong"
"Lha gimana, pagi-pagi tak dengarkan dari radius 10 meter kok kedengaran klosed-klosed, saknjane ada apa ta kang bejo?".
"Stop, tak rampungkan dulu tugasku ini, lima menit lagi ketemuan di warung mbok pah"
"Halah, gayane kayak wong gede wae. Oke tak tunggu di warung sumeleh ya kang".
Setelah lima menit.
"Sudah saya pesankan kang, kopi susu kan. Monggo ini rondho royalnya juga masih hot"
"Suwun ras"
"Gimana tadi masalah klosednya kang?"
"Singkat cerita ras, intine pak RT kampungku, kampung senin mewajibkan warganya punya klosed di jedingnya masing-masing, apa ndak hegemoni itu?".
"Lho, hegemoni gimana to kang, lha itu kan aturan yang baik, kalau semua warga punya klosed tujuannya adalah mendukung upaya pemerintah dalam bidang kesehatan penduduk. Penyakit-penyakit ndak gampang menyerang karena notabene penanggulangan penyakit yang bersarang di kotoran bisa terminimalisir. Sekarang sudah ndak jamannya model jamban kang, selain menjadikan lingkungan sekitar kurang baik karena masalah baunya yang aduhai.juga karena kurang tertutup sehingga menyebabkan banyak penyakit menyerang warga. Trus masalahnya dimana kang?"
Bejo tersenyum sinis sambil menikmati kue rondho royalnya yang masih hangat.
"Kopasusnya kang" lek min membawakan secangkir kopi susu pesanan Bejo.
"Suwun lek min"
"Piye kang argumentasi ku tadi? Coba jawab!".
"Waras sahabat kentalku, tak beritahu ya, kamu itu ndak ngerti duduk persoalannya".
"Maksudnya kang?".
"Aturan itu tak akui pancen jempol. I like that, selain untuk alasan kesehatan juga untuk mengangkat nama kampung senin di tingkat dusun menjadi kampung yang ideal.tapi ..."
"Tapi apa kang?".
"Kamu ngerti ndak berapa persen warga kampung yang belum mempunyai klosed. Hampir lebih dari 50% ras. Na ngerti ndak kamu alasannya?".
Waras menggelengkan kepalanya.
"Para warga kampung senin, jangankan klosed, jamban saja ndak punya, mereka lebih suka berak di kali-kali atau bengawan, selain lebih bebas tak terikat juga karena jeding alias kamar mandi saja para warga belum punya.kita tahu sendiri tingkat ekonomi mereka berada di level sepertiga dari tengah ndlosor ke bawah. Buat makan sehari-hari saja kurang-kurang. sekarang diwajibkan beli klosed, mau ditaruh di mana? Ruang tamu ta? Mikirrrr !!!".
Closed
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar