Sore selepas laut (istirahat) mreman, Bejo leyeh-leyeh dibawah pohon slobin. Karena cuaca sedari siang tadi berawan didukung semilir angin yang merayu dan mengajak pelupuk mata untuk terpejam, lek kun bablas.
Tidak dinyana sebelumnya sudah berdiri seorang tinggi besar,dedeg piadeg pidegso mrebawani, sorot mata tajam layaknya seekor elang yang melihat mangsa, kumis tebal dan jenggot simbar dodo. Seperti dalam pertunjukan wayang orang Sriwedari orang itu bergelung keling, gelangnya candrakirana dan jarit poleng bang bintulu aji. Dengan tatapan tajam mengarah ke bejo yang tampaknya gemetaran dan wajah pucat sampai-sampai tidak bisa ngelek idu.
Bejo mengambil nafas dalam, "si...sin...ten ndiko?"
Belum ada jawaban, orang itu tetap saja memelototi wajah bejo yang semakin abang biru saking takutnya.
Setelah sekian menit, barulah terdengar suara mendehem panjang.
"Hemmmm......"
Bejo sudah bisa tersenyum setelah mendengar suara orang tersebut.
"Ealah....panjenengan iki lak Raden Bronthoseno ngge?"
Orang itu mengangguk kaku.
"Panjenengan wonten kawigatosan menopo dumugi mriki Raden, kok njanur gunung ?"
"Hemmmm.......Iki tlatah ndi? Opo ijek bumi ngamarta?"
Memang dalam pewayangan Pandawa satu ini tidak pernah berbahasa Krama dengan siapapun meskipun menghadap ratu (raja).
"Sanes Raden, ini negara Indonesia"
"Indo..."
"Indonesia Raden"
"Hemmmm.....ngerti panggone tirto Prawitasari?"
"Tirto Prawitasari? Menawi mboten lepat sakmeniko lakon dewa Ruci ngge?"
"Iyooo...Iki lelakon ku, sendiko dawuh karo perintahe begawan guru durno"
Bejo tersenyum sendiri, tampaknya dia telah masuk di dunia pewayangan atau bahkan terbalik dimensi pewayangan yang katon Sanyoto atau tampak nyata dihadapannya.
Bejo memang penggemar wayang kulit. Tidak jarang begadang semalam suntuk hanya untuk mendengarkan lakon wayang di chanel RRI radio lawasnya. Jadi dia sangat hafal dengan lakon dewa ruci. Kini dia didatangi langsung sosok tokoh pewayangan yang digemarinya, sebuah even yang mungkin sekali dalam perjalanan hidup bejo.Lek kun masih terlihat senyum sendiri sembari merancang dalam benaknya pertemuan ini akan diceritakan ke teman-temannya di lingkar ngopi.
"Hemmmm......Kowe ngerti opo ora?"
Ternyata bejo tengah asik dengan lamunannya sendiri.
"Eh...atur pangapunten Raden, lakon panjenengan sakmeniko kawulo semerap pungkasaning cerito, bile panjenengan kerso kulo badhe mbabar alur utowo reroncening lampah lakon sakmeniko"
"Dadi awakmu ngerti pungkase critaku?"
"Engge den"
"Hemmmm......tak kandani, aku ora butuh ngerti crito lakonku Iki, apik opo elek aku ora mraelu. Kewajibanku mung nurut marang printahe guru. Senajan diperintah nyegur segoro bakal tak lakoni. Sebab aku yakin bakal dadi sarono mukti wibowoku, ibuku kunthi, dulur-dulurku Pendowo lan kabeh rakyat sak negoro ngamarta."
Lek kun godek-godek, seandainya saja karakter seperti itu diwarisi generasi saat ini. Andhap asor (tawadhu') kepada guru, tentu saja guru tidak hanya diartikan sebagai orang yang mengajar di sekolah atau tempat belajar saja, melainkan orang-orang yang mempunyai sumbangsih keilmuan dan kaweruh apapun terhadap pemikiran, perilaku dan ucapan kita. Bisa jadi datang dari wong tandur, bocah angon, pemulung, gelandangan dan Kawulo alit lainnya karena dimensi istilah guru dan murid sangatlah luas. Tirto Prawitasari yang sedang dicari Raden Bronthoseno bukanlah sebuah benda yang konkrit. Karena arti dari Prawitasari adalah kehidupan itu sendiri. Mencari air kehidupan sama halnya dengan pencarian jati diri, menapaki riak-riak gelombang yang berada pada alur hidup. Sehingga pada akhir cerita lakon dewa Ruci, sang Werkudara berhasil bertemu dengan dirinya yang micro cosmos dalam bentuk wadag sang dewa Ruci. Digambarkan dalam cerita pewayangan dewa Ruci berwujud fisik bimasena namun seukuran ujung jari. Sang Werkudara dalam kebingungan yang teramat bingung mendapat wangsit untuk masuk kedalam tubuh micro cosmos tersebut melalui telinganya. Sebuah perlambang kemanunggalan yang tidak bisa didefinisikan dengan ilmu logika apapun. Entah manunggalnya kekuasaan dengan objek yang menjadi kuasanya,entah manunggalnya pemimpin dengan rakyatnya, rakyat dengan kedaulatannya atau yang lainnya. Semua tergantung darimana esensi penafsiran diambil. Tirto Prawitasari hakikatnya bukanlah hasil melainkan satu kesatuan niat,keyakinan,usaha serta akumulasi dari pengharapan yang dihimpun dari do'a yang tulus dan ikhlas tanpa ada rasa keraguan sedikitpun tentang hasil akhir. Baik dan buruk, happy atau sad ending, semua sudah kering tergariskan di Lauful Mahfudz.
Bayang benda sudah dua kali tingginya, lek kun kini sibuk mencari hp kameranya, kesempatan istimewa ini harus diabadikan, begitulah fikirnya. Saking sibuknya mencari hp nya sampai tidak sadar bahwa orang yang berada dihadapannya telah lenyap. Bejo menangis tertahan tak bersuara karena menyesal.
"Radeeeeen....Radeeeen....hiiiiiiiiiiiks....."
"Tangi jo....tangiiiii....."
"Alhamdulillah.....Raden kesini lagi....saya kira Raden sudah pergi tadi.....kita Selfi dulu ya...."
"Wong edan, wong nglindur...."
Bejo riyip-riyip membuka matanya.
"Astaghfirullah....na lapo aku ngrakut kowe Iki"
Punjul yang memang berbadan tegap itu tertawa ngakak.
"Dasar tukang nglindur".
Mencari Tirta Prawitasari
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar